Laman

Selasa, 10 Juli 2012

Ode Buat Balotelli


Usai sudah hajatan besar publik sepakbola Eropa yang dihelat tiap empat tahun sekali itu. Spanyol, yang bergelar sebagai incumbent, sukses mempertahankan piala yang mereka gondol empat tahun lalu, setelah mengalahkan Italia dengan skor cukup telak, 4 – 0. Spanyol sukses mencetak sejarah sebagai tim pertama yang mampu meraih gelar jawara secara back-to-back, sementara Italia harus mengubur dalam-dalam impian mereka untuk meraih gelar Euro mereka yang kedua.

Di akhir laga, kita pun disuguhi dengan dua adegan yang bertolak belakang. Bagaimana lompatan girang pemain-pemain Spanyol di tribun pengalungan medali berbanding terbalik dengan mata berkaca-kaca dan langkah gontai para punggawa Gli Azzuri yang menyasikan dari tengah lapangan. 

Satu hal yang menarik, diantara mereka terselip seorang Mario Balotelli yang tertangkap kamera tengah menangisi kekalahan timnya. Menjadi menarik karena Balotelli sudah kadung terkenal sebagai pemain yang jarang meluapkan emosinya. Ekspresi wajahnya yang minim mimik dalam segala momen, hanya mampu ditandingi oleh akting Kristen Stewart dalam film Twilight.

Jangan harap bisa menyaksikan selebrasi gol yang meledak-ledak ala Didier Drogba dari seorang Balotelli. Merayakan gol, bagi Balotelli, bukanlah prioritas utama.  "When I score I don't celebrate, because I do my work. When the postman delivers your letters, does he celebrate?" ujarnya ketika ditanya mengapa dirinya jarang melakukan selebrasi atas gol-gol yang dicetaknya.

Bagi Balotelli, mungkin, merayakan gol adalah sesuatu yang sifatnya hablumminallah. Cukup dia dan Tuhan saja yang tahu. Akan tetapi pada Euro kali ini, Balotelli tampil sebagai sosok yang berbeda dari biasanya.

Dari ketiga gol yang dilesakkanya di sepanjang Euro, semuanya dirayakan Balotelli tidak dengan selebrasi “jalan santai” sebagaimana yang biasa ia lakukan. Kita tentu masih ingat bagaimana Leonardo Bonucci harus susah payah menyumpal mulut Balotelli yang mencak-mencak setelah ia berhasil membobol gawang Irlandia lewat tendangan first time yang cukup spektakuler.

Pun begitu dengan dua golnya ke gawang Jerman. Gol pertama dirayakannya dengan mengibas-ibas kostum biru milik Italia sebelum memeluk Antonio Cassano, sang pemberi assist.  Selebrasi berikutnya jauh lebih monumental. Sehabis melepas tendangan kencang ke sudut gawang Jerman, yang mampu membuat Manuel Neuer melongo, Super Mario kemudian melepas jersey-nya lalu memasang wajah sangar sembari memamerkan otot-otot tubuhnya. Sebuah selebrasi yang bahkan sanggup membuat Patung Pemuda Membangun di Bundaran Senayan sana menjadi minder tak keruan.

Keluwesan Balotelli dalam berekspresi kemudian mencapai puncaknya di partai final. Usai mengumpat-umpat di depan kamera sesaat setelah peluit panjang ditiup wasit, dirinya kemudian tertangkap kamera tengah berkaca-kaca kala menyaksikan Iker Casillas dkk mengangkat trofi jawara Euro. Tidak seekspresif Leonardo Bonucci yang sampai menangis tersedu-sedu memang, tapi menyaksikan momen dimana Balotelli mbrebes mili adalah sesuatu yang lebih langka daripada melihat personil boyband-boyband dalam negeri menyanyi tanpa lipsync di acara musik pagi.

Sesaat setelah menyaksikan momen itu, memori di kepala saya membawa saya kembali mengingat-ingat akan masa lalu Balotelli. 

Tentang bagaimana ketika Ia “dibuang” oleh kedua orangtuanya saat masih berusia 3 tahun. Tentang bagaimana Balotelli mendapat perlakuan rasis dari teman-temannya sejak masa kanak-kanaknya. Tentang kenakalan dan ulah-ulah sintingnya kerap membuatnya disorot oleh media secara negatif. Tentang bagaimana ia akrab menjadi bahan olok-olokan dan celaan, baik oleh media maupun oleh fans.

Kesemua hal itu kemudian membuat saya paham, bahwa air mata “si Tukang Pos” di malam itu, adalah sebuah katarsis atas segala kekecewaannya yang tengah berusaha membuktikan dirinya dan membungkam segala komentar miring tentang dirinya. Kekalahan telak dari Spanyol malam itu, jelas memukul ambisi besarnya yang tengah menggelora. Apalagi kalau mengingat di partai sebelumnya, Ia mampu tampil brilian dan mencetak dua gol kemenangan.

Ah, seandainya saya berada di sebelahnya waktu itu, saya ingin membisikinya sebuah kalimat: “When a postman failed to deliver your letters, he doesn’t cry. He will try again, when he has the chance.” Jadi, jangan bersedih lagi, Balotelli. Masih ada kesempatan berikutnya.

Rabu, 04 April 2012

Moneyball for The Magpies


Musim ini performa Newcastle United benar-benar mengesankan. Sempat didakwa jadi salah satu kandidat tim yang akan masuk lubang degradasi akibat hengkangnya pemain-pemain penting semisal Joey Barton, Kevin Nolan dan juga Andy Carroll, The Magpies kini justru duduk gagah di posisi ke-5, unggul dua poin dari Chelsea plus hanya kalah produktivitas gol dari Tottenham Hotspur yang berada di posisi ke-4.

Strategi jitu mereka di bursa transfer ketika berhasil mendaratkan Demba Ba dan Yohan Cabaye di awal musim ini dengan dana tak lebih dari 4,4 juta pounds, yang juga disebut-sebut sebagai salah satu "the best transfer moves" dalam sejarah Liga Inggris, ditengarai jadi sebab musabab mencuatnya The Toon Army. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan menggaet Papiss Demba Cisse dari Freiburg dengan nilai transfer yang konon hanya sebesar 9 juta pounds pada pertengahan musim ini. Nilai tersebut jelas saja membuat penjualan Andy Carroll senilai 35 juta pounds ke Liverpool pada Januari tahun lalu tak ubahnya menang lotere dari nomer tiket yang dipungut di pinggir jalan. Untung besar.

Demba Ba, yang sempat ditolak Stoke City akibat fisiknya yang rentan cedera, sejauh ini meledak dengan torehan 16 gol. Cabaye, pemimpin orkestra lini tengah skuad Alan Pardew, sudah mencatat 2 gol dan 5 assist. Sementara Papiss Demba Cisse langsung tampil trengginas dengan mengemas 10 gol dari 8 pertandingannya bersama The Magpies.

Segenap kesuksesan di bursa transfer itu kemudian membikin saya gatal untuk mencari-cari nama Brad Pitt dalam daftar "orang-orang belakang layar" yang mengurusi Newcastle United, khususnya deputi transfer pemain. Pelbagai pencarian melalui search engine dengan macam-macam keyword sudah saya lakukan dan hasilnya nihil. Tidak ada nama Brad Pitt disana.

Mungkin kalian akan sedikit mengernyitkan dahi mencari-cari hubungan apa yang bisa mengaitkan antara Brad Pitt dengan performa hebat Newcastle United, sebuah klub sepakbola yang berjarak beribu-ribu mil jauhnya dari rumahnya di Amerika sana. Wajar, karena hipotesis saya ini memang hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang telah menyaksikan film "Moneyball" saja. Ya, Moneyball, film yang berkisah tentang kejeniusan seorang manajer dalam perekrutan pemain dalam lantai bursa transfer.

Di film yang diangkat dari kisah nyata tersebut, Brad Pitt didaulat memerankan sosok Billy Beane, manajer dari sebuah tim baseball profesional asal Amerika, Oakland Athletics. Pada musim 2002/2003 Liga Baseball Amerika, Oakland hanyalah sebuah klub gurem dengan bujet minimalis yang tengah keropos akibat ditinggal pergi pemain-pemain andalannya. Hal ini mendorong Beane -- yang dibantu asistennya, Peter Brand-- untuk menemukan pemain-pemain underrated dengan harga murah, namun berpotensi hebat. Mengusung metode super rumit dengan hitung-hitungan statistik njelimet yang mereka namai sabermatrics, Oakland akhirnya berhasil mendapat pemain-pemain berkualitas dengan harga murah untuk kemudian mencetak sejarah dengan meraih 20 kemenangan berturut-turut dan terus melaju hingga ke babak final West Divisions sebelum akhirnya dihentikan oleh tim kaya raya, Boston Red Sox.

Benang merah antara Newcastle United dan Oakland Athletics terlihat jelas. Keduanya adalah tim yang sukses mendapatkan pemain-pemain berkualitas dengan harga murah, yang kemudian berimbas pada melonjaknya performa tim secara keseluruhan. Singkat kata, keduanya adalah si cerdas yang pandai bersiasat dalam urusan transfer pemain.

Asal tahu saja, Yohan Cabaye tadinya dibandrol senilai 10 juta pounds oleh Lille sebelum akhirnya berhasil diakali dengan menebus buy-out clause Cabaye yang cuma 4,4 juta pounds. Sementara untuk Cisse, mahar sebesar 15 juta pounds adalah nilai yang tadinya dipatok Freiburg untuk membuat Cisse melepas kostum merah-hitam milik Freiburg. Lagi-lagi berkat kejelian dan bargain jenius dari  Newcastle lah yang membuat Freiburg akhirnya menyerah di angka 9 juta pounds. Untuk Demba Ba lebih fenomenal lagi. Striker tim nasional Senegal ini didapatkan secara gratis setelah dilepas oleh klubnya, West Ham United. Melihat jumlah 16 gol yang dicetaknya, berbanding koleksi 2 gol milik Andy Carroll maupun 3 gol milik Fernando Torres yang berbanderol puluhan juta pounds, langkah Newcastle ini jelas lebih efektif dan efisien.

Memang, sejauh ini tak ada klaim resmi dari pihak Newcastle soal pengaplikasian metode "moneyball" ala Billy Beane dalam praktik transfer mereka. Begitu juga dengan "hipotesis Brad Pitt" milik saya yang sudah jelas-jelas tak terbukti dengan tidak ditemukannya nama Brad Pitt dalam jajaran staf manajerial Newcastle. Akan tetapi terlepas dari semua itu, langkah jenius Newcastle United memang layak dikagumi sebagai pendobrak pakem sepakbola era modern seperti sekarang ini dimana prestasi nampak begitu dependen dengan seberapa tebal pundi-pundi keuangan yang dimiliki sebuah tim.

Pada akhirnya, Newcastle mungkin memang tidak benar-benar mempraktikkan mahzab moneyball milik Beane secara utuh dan menyeluruh. Akan tetapi transfer policy yang mereka lakukan pada saat ini jelas mengusung idealisme yang serupa dengan moneyball. Setidaknya, hal itu tergambar dengan terhindarnya mereka dari membuang-buang uang sebesar 50 juta pounds hanya untuk membeli seorang "mantan striker berbahaya" ataupun 35 juta pounds untuk menggaet pria berkuncir yang lebih mirip bintang film vivid ketimbang pemain sepakbola. Well done, Geordie!