Minggu, 19 Agustus 2012
Enigma Sepakbola Nasional
Saya kerap kebingungan saban menyimak berita-berita soal sepak bola nasional belakangan ini. Selain karena beritanya yang lebih sering berisi hal-hal yang nyeleneh, informasinya juga kerap tidak konsisten dan mudah berubah-ubah.
Kala waktu di media berujar A, tapi beberapa hari kemudian yang terjadi malah B. Inkonsisten, asbun, dan membikin kita yang menonton ingin membentur-benturkan kepala ke tembok.
Misalnya saja soal boleh tidaknya pemain-pemain dari kompetisi Indonesian Super League (ISL) –yang diorganisir oleh Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI)– untuk memperkuat timnas di ajang internasional.
Kita semua tahu bahwa awalnya PSSI melarang seluruh elemen yang berkecimpung dalam kompetisi ISL untuk turut berpartisipasi dalam agenda-agenda timnas. Mulai dari pemain, pelatih, manajer tim, bahkan sampai dengan wasit, semuanya masuk dalam daftar hitam yang tak boleh ikut campur dalam segala tetek bengek persoalan timnas, kecuali sebagai penonton.
Kemudian muncul berita mengejutkan. PSSI dan KPSI dikabarkan telah berdamai dan sepakat untuk menyamakan persepsi mereka demi kemajuan persepakbolaan nasional Hal yang kemudian disimbolkan dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara keduanya pada awal Juni silam.
Pasca ditandatanganinya MoU tersebut, pintu bagi pemain-pemain yang merumput di ISL untuk (kembali) memperkuat timnas sepertinya akan terbuka lebar-lebar. Hal ini juga sesuai dengan keinginan KPSI yang menuntut persamaan hak dalam membela timnas, antara pemain ISL dan IPL.
Tapi seperti sebuah film yang mengadaptasi kisah novel, kadang hitam di atas putih yang tercetak bisa sangat berbeda dengan gerak laku dalam adegan. Beberapa hari setelah penandatanganan MoU, KPSI justru memutuskan untuk melarang pemain-pemain dari ISL untuk bergabung dengan timnas. Alasannya apa? Saya juga tak begitu paham.
Konon sih, karena KPSI merasa PSSI bertindak semaunya dalam mengirimkan perwakilan ke Liga Champions Asia, yang hanya mengikutkan wakil dari IPL saja. Alasan lainnya adalah karena kompetisi ISL masih bergulir dan tengah memasuki pekan-pekan akhir sehingga menuntut konsentrasi penuh dari setiap partisipannya.
Ah, tapi dalam rimba sepak bola kita yang selalu direcoki motif-motif terselubung, sulit untuk menarik sebuah kesimpulan yang benar-benar definitif. Segalanya serba nisbi serta penuh dengan enigma. Sulit untuk bisa percaya begitu saja.
Kondisi persepakbolaan nasional belakangan ini memang benar-benar abnormal. Induk organisasinya saja ada dua. Kompetisi liganya juga ada dua. Beberapa klub yang berkecimpung di dalamnya –misalnya Persija, Persebaya, dan Arema – pun, ikut membelah diri laksana amoeba menjadi dua, bahkan ada yang tiga. Yap, keadaan sepak bola Indonesia memang tak ubahnya tagline iklan produk wafer di televisi : “Satu mana cukup?”
Segala imbas dari dualisme tadi, toh pada akhirnya akan bermuara ke timnas juga. Bagaimana tidak, punya satu timnas yang berisikan kumpulan bakat-bakat terbaik di kolong langit bumi pertiwi ini saja kita masih kesulitan untuk berprestasi, apalagi jika kekuatan timnasnya terpecah belah menjadi dua kutub. Sudah barang pasti prestasi timnas jadi semakin butut dan inferior.
Tersingkir dari ajang kualifikasi Piala Dunia 2014 sebagai juru kunci – ditambah dengan embel-embel memalukan dibantai 10 – 0 oleh Bahrain – sudah cukup membikin muka kita merah padam. Eh, tak lama berselang timnas U-21 malah gagal juara di ajang ecek-ecek bertajuk Piala Sultan Hasanah Bolkiah. Andik Vermansyah dkk takluk oleh tuan rumah Brunei Darussalam, dua gol tanpa balas.
Compang-camping prestasi timnas akan makin kronis jika ikut menghitung gagalnya timnas U-22 lolos ke ajang Piala Asia U-22 setelah hanya mampu bercokol di peringkat ketiga penyisihan Grup E, di bawah Jepang dan Australia.
Belum lagi dengan kekalahan telak enam gol berbalas nihil kala menjamu Malaysia dalam laga ujicoba beberapa waktu lalu. Resmi sudah sepakbola kita mengalami dekadensi prestasi, bukan lagi stagnasi.
Tidak akan ada prestasi yang sudi menghampiri selama dualisme ini tidak kunjung berhenti. Selama belum ada titik temu antara PSSI dengan KPSI, selamanya timnas akan melulu direcoki hal-hal yang berkaitan dengan faktor non teknis. Dan selama itu pula, sepak bola kita akan terus menerus berjalan mundur. Menjauh dari prestasi.
Kini, sepak bola Indonesia akan memasuki fase paling substansial bagi kelangsungan hidupnya. Kedua kompetisi yang digelar sudah berakhir dan memunculkan juara dari masing-masing kubu.
Sriwijaya FC menjadi juara ISL, sementara Semen Padang keluar sebagai kampiun IPL. Inilah titik yang paling tepat untuk melakukan konsolidasi atas segala dualisme yang telah terjadi.
Bagaimana kelanjutan kompetisi musim depan, apakah akan dilakukan penyatuan kompetisi antara ISL dan IPL, bagaimana nasib klub-klub yang mengalami dualisme kepengurusan, bagaimana persoalan gaji pemain yang masih ditunggak sebagian besar klub, serta yang paling penting, bagaimana persiapan yang akan dilakukan timnas menuju perhelatan Piala AFF, adalah enigma-enigma yang harus segera dituntaskan oleh PSSI dan KPSI untuk menentukan hendak dibawa kemanakah sepakbola Indonesia ke depannya.
Dengan Piala AFF yang akan segera digulirkan dalam hitungan bulan, apabila kisruh dualisme ini tidak segera dikonsolidasi, di saat negara-negara lain yang sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, kita mungkin tidak akan terlalu terkejut lagi jika pada akhirnya Indonesia tumbang lebih awal di fase kualifikasi grup.
Hmm, semoga saja tidak demikian.
Selasa, 10 Juli 2012
Ode Buat Balotelli
Usai sudah hajatan besar publik sepakbola Eropa yang dihelat tiap empat tahun sekali itu. Spanyol, yang bergelar sebagai incumbent, sukses mempertahankan piala yang mereka gondol empat tahun lalu, setelah mengalahkan Italia dengan skor cukup telak, 4 – 0. Spanyol sukses mencetak sejarah sebagai tim pertama yang mampu meraih gelar jawara secara back-to-back, sementara Italia harus mengubur dalam-dalam impian mereka untuk meraih gelar Euro mereka yang kedua.
Di
akhir laga, kita pun disuguhi dengan dua adegan yang bertolak belakang.
Bagaimana lompatan girang pemain-pemain Spanyol di tribun pengalungan
medali berbanding terbalik dengan mata berkaca-kaca dan langkah gontai
para punggawa Gli Azzuri yang menyasikan dari tengah lapangan.
Satu
hal yang menarik, diantara mereka terselip seorang Mario Balotelli yang
tertangkap kamera tengah menangisi kekalahan timnya. Menjadi menarik
karena Balotelli sudah kadung terkenal sebagai pemain yang jarang
meluapkan emosinya. Ekspresi wajahnya yang minim mimik dalam segala
momen, hanya mampu ditandingi oleh akting Kristen Stewart dalam film
Twilight.
Jangan
harap bisa menyaksikan selebrasi gol yang meledak-ledak ala Didier
Drogba dari seorang Balotelli. Merayakan gol, bagi Balotelli, bukanlah
prioritas utama. "When I score I don't celebrate, because I do my work. When the postman delivers your letters, does he celebrate?" ujarnya ketika ditanya mengapa dirinya jarang melakukan selebrasi atas gol-gol yang dicetaknya.
Bagi Balotelli, mungkin, merayakan gol adalah sesuatu yang sifatnya hablumminallah. Cukup dia dan Tuhan saja yang tahu. Akan tetapi pada Euro kali ini, Balotelli tampil sebagai sosok yang berbeda dari biasanya.
Dari ketiga gol yang dilesakkanya di sepanjang Euro, semuanya dirayakan Balotelli tidak dengan selebrasi “jalan santai” sebagaimana yang biasa ia lakukan. Kita tentu masih ingat bagaimana Leonardo Bonucci harus susah payah menyumpal mulut Balotelli yang mencak-mencak setelah ia berhasil membobol gawang Irlandia lewat tendangan first time yang cukup spektakuler.
Pun begitu dengan dua golnya ke gawang Jerman. Gol pertama dirayakannya dengan mengibas-ibas kostum biru milik Italia sebelum memeluk Antonio Cassano, sang pemberi assist. Selebrasi berikutnya jauh lebih monumental. Sehabis melepas tendangan kencang ke sudut gawang Jerman, yang mampu membuat Manuel Neuer melongo, Super Mario kemudian melepas jersey-nya lalu memasang wajah sangar sembari memamerkan otot-otot tubuhnya. Sebuah selebrasi yang bahkan sanggup membuat Patung Pemuda Membangun di Bundaran Senayan sana menjadi minder tak keruan.
Keluwesan Balotelli dalam berekspresi kemudian mencapai puncaknya di partai final. Usai mengumpat-umpat di depan kamera sesaat setelah peluit panjang ditiup wasit, dirinya kemudian tertangkap kamera tengah berkaca-kaca kala menyaksikan Iker Casillas dkk mengangkat trofi jawara Euro. Tidak seekspresif Leonardo Bonucci yang sampai menangis tersedu-sedu memang, tapi menyaksikan momen dimana Balotelli mbrebes mili adalah sesuatu yang lebih langka daripada melihat personil boyband-boyband dalam negeri menyanyi tanpa lipsync di acara musik pagi.
Sesaat setelah menyaksikan momen itu, memori di kepala saya membawa saya kembali mengingat-ingat akan masa lalu Balotelli.
Tentang bagaimana ketika Ia “dibuang” oleh kedua orangtuanya saat masih berusia 3 tahun. Tentang bagaimana Balotelli mendapat perlakuan rasis dari teman-temannya sejak masa kanak-kanaknya. Tentang kenakalan dan ulah-ulah sintingnya kerap membuatnya disorot oleh media secara negatif. Tentang bagaimana ia akrab menjadi bahan olok-olokan dan celaan, baik oleh media maupun oleh fans.
Kesemua hal itu kemudian membuat saya paham, bahwa air mata “si Tukang Pos” di malam itu, adalah sebuah katarsis atas segala kekecewaannya yang tengah berusaha membuktikan dirinya dan membungkam segala komentar miring tentang dirinya. Kekalahan telak dari Spanyol malam itu, jelas memukul ambisi besarnya yang tengah menggelora. Apalagi kalau mengingat di partai sebelumnya, Ia mampu tampil brilian dan mencetak dua gol kemenangan.
Ah,
seandainya saya berada di sebelahnya waktu itu, saya ingin membisikinya
sebuah kalimat: “When a postman failed to deliver your letters, he
doesn’t cry. He will try again, when he has the chance.” Jadi, jangan
bersedih lagi, Balotelli. Masih ada kesempatan berikutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

