Laman

Rabu, 04 April 2012

Moneyball for The Magpies


Musim ini performa Newcastle United benar-benar mengesankan. Sempat didakwa jadi salah satu kandidat tim yang akan masuk lubang degradasi akibat hengkangnya pemain-pemain penting semisal Joey Barton, Kevin Nolan dan juga Andy Carroll, The Magpies kini justru duduk gagah di posisi ke-5, unggul dua poin dari Chelsea plus hanya kalah produktivitas gol dari Tottenham Hotspur yang berada di posisi ke-4.

Strategi jitu mereka di bursa transfer ketika berhasil mendaratkan Demba Ba dan Yohan Cabaye di awal musim ini dengan dana tak lebih dari 4,4 juta pounds, yang juga disebut-sebut sebagai salah satu "the best transfer moves" dalam sejarah Liga Inggris, ditengarai jadi sebab musabab mencuatnya The Toon Army. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan menggaet Papiss Demba Cisse dari Freiburg dengan nilai transfer yang konon hanya sebesar 9 juta pounds pada pertengahan musim ini. Nilai tersebut jelas saja membuat penjualan Andy Carroll senilai 35 juta pounds ke Liverpool pada Januari tahun lalu tak ubahnya menang lotere dari nomer tiket yang dipungut di pinggir jalan. Untung besar.

Demba Ba, yang sempat ditolak Stoke City akibat fisiknya yang rentan cedera, sejauh ini meledak dengan torehan 16 gol. Cabaye, pemimpin orkestra lini tengah skuad Alan Pardew, sudah mencatat 2 gol dan 5 assist. Sementara Papiss Demba Cisse langsung tampil trengginas dengan mengemas 10 gol dari 8 pertandingannya bersama The Magpies.

Segenap kesuksesan di bursa transfer itu kemudian membikin saya gatal untuk mencari-cari nama Brad Pitt dalam daftar "orang-orang belakang layar" yang mengurusi Newcastle United, khususnya deputi transfer pemain. Pelbagai pencarian melalui search engine dengan macam-macam keyword sudah saya lakukan dan hasilnya nihil. Tidak ada nama Brad Pitt disana.

Mungkin kalian akan sedikit mengernyitkan dahi mencari-cari hubungan apa yang bisa mengaitkan antara Brad Pitt dengan performa hebat Newcastle United, sebuah klub sepakbola yang berjarak beribu-ribu mil jauhnya dari rumahnya di Amerika sana. Wajar, karena hipotesis saya ini memang hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang telah menyaksikan film "Moneyball" saja. Ya, Moneyball, film yang berkisah tentang kejeniusan seorang manajer dalam perekrutan pemain dalam lantai bursa transfer.

Di film yang diangkat dari kisah nyata tersebut, Brad Pitt didaulat memerankan sosok Billy Beane, manajer dari sebuah tim baseball profesional asal Amerika, Oakland Athletics. Pada musim 2002/2003 Liga Baseball Amerika, Oakland hanyalah sebuah klub gurem dengan bujet minimalis yang tengah keropos akibat ditinggal pergi pemain-pemain andalannya. Hal ini mendorong Beane -- yang dibantu asistennya, Peter Brand-- untuk menemukan pemain-pemain underrated dengan harga murah, namun berpotensi hebat. Mengusung metode super rumit dengan hitung-hitungan statistik njelimet yang mereka namai sabermatrics, Oakland akhirnya berhasil mendapat pemain-pemain berkualitas dengan harga murah untuk kemudian mencetak sejarah dengan meraih 20 kemenangan berturut-turut dan terus melaju hingga ke babak final West Divisions sebelum akhirnya dihentikan oleh tim kaya raya, Boston Red Sox.

Benang merah antara Newcastle United dan Oakland Athletics terlihat jelas. Keduanya adalah tim yang sukses mendapatkan pemain-pemain berkualitas dengan harga murah, yang kemudian berimbas pada melonjaknya performa tim secara keseluruhan. Singkat kata, keduanya adalah si cerdas yang pandai bersiasat dalam urusan transfer pemain.

Asal tahu saja, Yohan Cabaye tadinya dibandrol senilai 10 juta pounds oleh Lille sebelum akhirnya berhasil diakali dengan menebus buy-out clause Cabaye yang cuma 4,4 juta pounds. Sementara untuk Cisse, mahar sebesar 15 juta pounds adalah nilai yang tadinya dipatok Freiburg untuk membuat Cisse melepas kostum merah-hitam milik Freiburg. Lagi-lagi berkat kejelian dan bargain jenius dari  Newcastle lah yang membuat Freiburg akhirnya menyerah di angka 9 juta pounds. Untuk Demba Ba lebih fenomenal lagi. Striker tim nasional Senegal ini didapatkan secara gratis setelah dilepas oleh klubnya, West Ham United. Melihat jumlah 16 gol yang dicetaknya, berbanding koleksi 2 gol milik Andy Carroll maupun 3 gol milik Fernando Torres yang berbanderol puluhan juta pounds, langkah Newcastle ini jelas lebih efektif dan efisien.

Memang, sejauh ini tak ada klaim resmi dari pihak Newcastle soal pengaplikasian metode "moneyball" ala Billy Beane dalam praktik transfer mereka. Begitu juga dengan "hipotesis Brad Pitt" milik saya yang sudah jelas-jelas tak terbukti dengan tidak ditemukannya nama Brad Pitt dalam jajaran staf manajerial Newcastle. Akan tetapi terlepas dari semua itu, langkah jenius Newcastle United memang layak dikagumi sebagai pendobrak pakem sepakbola era modern seperti sekarang ini dimana prestasi nampak begitu dependen dengan seberapa tebal pundi-pundi keuangan yang dimiliki sebuah tim.

Pada akhirnya, Newcastle mungkin memang tidak benar-benar mempraktikkan mahzab moneyball milik Beane secara utuh dan menyeluruh. Akan tetapi transfer policy yang mereka lakukan pada saat ini jelas mengusung idealisme yang serupa dengan moneyball. Setidaknya, hal itu tergambar dengan terhindarnya mereka dari membuang-buang uang sebesar 50 juta pounds hanya untuk membeli seorang "mantan striker berbahaya" ataupun 35 juta pounds untuk menggaet pria berkuncir yang lebih mirip bintang film vivid ketimbang pemain sepakbola. Well done, Geordie!

Rabu, 01 Februari 2012

Diego Michiels, Pelanduk Sepakbola Indonesia


Hidup adalah melulu soal pilihan, pun begitu yang terjadi dalam dunia sepakbola. Setiap entitas di dalamnya diberi macam-macam opsi, untuk kemudian berhak memilih salah satunya, yang diyakininya sebagai yang paling baik. Sesederhana itulah yang juga sedang dilakukan seorang Diego Michiels, pemuda keturunan Belanda yang memilih jadi Warga Negara Indonesia demi untuk mengenakan seragam kebesaran tim nasional dengan lambang garuda di dada sebelah kiri.

Pilihannya untuk mengundurkan diri sekaligus membatalkan kontraknya dengan Pelita Jaya secara sepihak, untuk kemudian menyeberang ke klub Liga (yang mengaku) Profesional bikinan PSSI sejatinya adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai luhur sportifitas dan profesionalisme secara telak. Tentunya apabila tindakan Diego itu dilakukan bukan di ranah sepakbola Indonesia, dimana dualisi dan perpecahan sedang menjadi tren, dapat dipastikan bahwa Diego terancam sanksi mahaberat, entah dari klub, federasi sepakbola, atau bahkan dari FIFA sekalipun.

Diego, sedari awal sudah menegaskan bahwa ihwal pengunduran dirinya adalah melulu demi menyelamatkan kesempatannya membela tim nasional Indonesia. Bermain di Pelita Jaya, dalam kompetisi yang dicap ilegal oleh PSSI tentu menurut Diego bukanlah hal bagus buat kelangsungan karir nasionalnya. Meskipun sejatinya Indonesian Super League, kompetisi yang dikecimpungi Pelita Jaya, punya kualitas setingkat atau bahkan dua tingkat di atas Liga Prima Indonesia, liga yang katanya profesional itu.

Harus dicatat, bahwa keputusan Diego untuk jauh-jauh merantau dari benua Eropa ke negara tanah leluhurnya adalah demi niatnya mengenakan seragam kebesaran tim nasional Indonesia. Maka ketika dia dihadapkan pada buah simalakama dengan dua opsi, yakni membelot dari Pelita Jaya untuk menyelamatkan kans-nya memperkuat timnas atau memilih menghormati kontraknya di Pelita Jaya dengan konsekuensi kehilangan kesempatan membela timnas sampai jangka waktu yang tidak diketahui, cukup realistis bila kemudian ia memilih opsi yang pertama.

Hidup adalah soal pilihan, dan setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi yang harus ditanggung akibat dari setiap pilihan yang telah dibuat. Kini Diego Michiels tengah menyongsong konsekuensi dari pilihannya, Pelita Jaya konon siap untuk memperkarakan Diego ke meja hijau, sekaligus melaporkan kasus Diego ke FIFA, sebagai induk organisasi sepakbola seluruh dunia.

Apabila hanya melihat dari kacamata hukum positif, sudah barang tentu kalau Diego adalah sang pelaku kejahatan yang melanggar aturan soal kontrak kerja dengan klub sepakbolanya. Dapat dipastikan juga, bahwa Diego adalah pihak yang sangat layak untuk mendapat hukuman sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Akan tetapi dalam kondisi sepakbola Indonesia, dengan pelbagai macam intrik dan kekisruhan di dalamnya saat ini, saya malah melihat Diego sebagai seorang korban. Korban dari sebuah perang besar memperebutkan kekuasaan, oleh dua kubu yang sama-sama mengaku sebagai pihak yang paling layak mengurusi sepakbola Indonesia.

Ibarat pepatah "Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah", Diego dan juga segenap pemain sepakbola yang kadung berkecimpung di dalam lingkaran setan sepakbola Indonesia, sedang menghadapi perannya sebagai pelanduk. Pelanduk di antara dua gajah yang tengah bertarung, yakni gajah jenggala dan gajah rezim lawas. Ya benar, sepakbola Indonesia telah berubah jadi medan perang sekarang ini, lengkap dengan segala macam drama di dalamnya, dan kisah Diego ini hanyalah salah satunya.

Dalam segala macam perang, sudah tentu gugurnya pelanduk-pelanduk adalah sesuatu yang lumrah, dan dalam perang yang entah kapan akan berakhirnya ini, kita tak pernah tahu berapa banyak lagi pelanduk yang akan digugurkan. Tapi sebagai penikmat sepakbola nasional, harapan kita semua tentu saja sama, supaya tidak ada lagi Diego-Diego lain yang digugurkan sebagai pelanduk. Dan sepakbola Indonesia bisa bangkit lagi untuk meraih mimpi-mimpi besarnya. Semoga!