Laman

Rabu, 01 Februari 2012

Diego Michiels, Pelanduk Sepakbola Indonesia


Hidup adalah melulu soal pilihan, pun begitu yang terjadi dalam dunia sepakbola. Setiap entitas di dalamnya diberi macam-macam opsi, untuk kemudian berhak memilih salah satunya, yang diyakininya sebagai yang paling baik. Sesederhana itulah yang juga sedang dilakukan seorang Diego Michiels, pemuda keturunan Belanda yang memilih jadi Warga Negara Indonesia demi untuk mengenakan seragam kebesaran tim nasional dengan lambang garuda di dada sebelah kiri.

Pilihannya untuk mengundurkan diri sekaligus membatalkan kontraknya dengan Pelita Jaya secara sepihak, untuk kemudian menyeberang ke klub Liga (yang mengaku) Profesional bikinan PSSI sejatinya adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai luhur sportifitas dan profesionalisme secara telak. Tentunya apabila tindakan Diego itu dilakukan bukan di ranah sepakbola Indonesia, dimana dualisi dan perpecahan sedang menjadi tren, dapat dipastikan bahwa Diego terancam sanksi mahaberat, entah dari klub, federasi sepakbola, atau bahkan dari FIFA sekalipun.

Diego, sedari awal sudah menegaskan bahwa ihwal pengunduran dirinya adalah melulu demi menyelamatkan kesempatannya membela tim nasional Indonesia. Bermain di Pelita Jaya, dalam kompetisi yang dicap ilegal oleh PSSI tentu menurut Diego bukanlah hal bagus buat kelangsungan karir nasionalnya. Meskipun sejatinya Indonesian Super League, kompetisi yang dikecimpungi Pelita Jaya, punya kualitas setingkat atau bahkan dua tingkat di atas Liga Prima Indonesia, liga yang katanya profesional itu.

Harus dicatat, bahwa keputusan Diego untuk jauh-jauh merantau dari benua Eropa ke negara tanah leluhurnya adalah demi niatnya mengenakan seragam kebesaran tim nasional Indonesia. Maka ketika dia dihadapkan pada buah simalakama dengan dua opsi, yakni membelot dari Pelita Jaya untuk menyelamatkan kans-nya memperkuat timnas atau memilih menghormati kontraknya di Pelita Jaya dengan konsekuensi kehilangan kesempatan membela timnas sampai jangka waktu yang tidak diketahui, cukup realistis bila kemudian ia memilih opsi yang pertama.

Hidup adalah soal pilihan, dan setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi yang harus ditanggung akibat dari setiap pilihan yang telah dibuat. Kini Diego Michiels tengah menyongsong konsekuensi dari pilihannya, Pelita Jaya konon siap untuk memperkarakan Diego ke meja hijau, sekaligus melaporkan kasus Diego ke FIFA, sebagai induk organisasi sepakbola seluruh dunia.

Apabila hanya melihat dari kacamata hukum positif, sudah barang tentu kalau Diego adalah sang pelaku kejahatan yang melanggar aturan soal kontrak kerja dengan klub sepakbolanya. Dapat dipastikan juga, bahwa Diego adalah pihak yang sangat layak untuk mendapat hukuman sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Akan tetapi dalam kondisi sepakbola Indonesia, dengan pelbagai macam intrik dan kekisruhan di dalamnya saat ini, saya malah melihat Diego sebagai seorang korban. Korban dari sebuah perang besar memperebutkan kekuasaan, oleh dua kubu yang sama-sama mengaku sebagai pihak yang paling layak mengurusi sepakbola Indonesia.

Ibarat pepatah "Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah", Diego dan juga segenap pemain sepakbola yang kadung berkecimpung di dalam lingkaran setan sepakbola Indonesia, sedang menghadapi perannya sebagai pelanduk. Pelanduk di antara dua gajah yang tengah bertarung, yakni gajah jenggala dan gajah rezim lawas. Ya benar, sepakbola Indonesia telah berubah jadi medan perang sekarang ini, lengkap dengan segala macam drama di dalamnya, dan kisah Diego ini hanyalah salah satunya.

Dalam segala macam perang, sudah tentu gugurnya pelanduk-pelanduk adalah sesuatu yang lumrah, dan dalam perang yang entah kapan akan berakhirnya ini, kita tak pernah tahu berapa banyak lagi pelanduk yang akan digugurkan. Tapi sebagai penikmat sepakbola nasional, harapan kita semua tentu saja sama, supaya tidak ada lagi Diego-Diego lain yang digugurkan sebagai pelanduk. Dan sepakbola Indonesia bisa bangkit lagi untuk meraih mimpi-mimpi besarnya. Semoga!

Senin, 09 Januari 2012

Scott Parker, The Underrated Midfielder


Harry Redknapp, manajer gempal berusia 64 tahun atau yang lebih dikenal sebagai "Houdini dari London Utara",  sepertinya sedang mendapati periode keemasannya bersama Tottenham Hotspurs musim ini. Sempat mengawali musim dengan dua kekalahan telak dari duo Manchester, Spurs, perlahan-lahan dibawa Redknapp merangkak naik ke papan atas klasemen, sebelum akhirnya mengakhiri tahun 2011 dengan bercokol di peringkat ketiga klasemen sementara English Premier League. Sebuah pencapaian terbaik Spurs di masa kepelatihannya.

Emmanuel Adebayor dan Jermaine Defoe boleh saja mencetak gol-gol kemenangan Spurs lewat gaya yang spektakuler. Gareth Bale dan Aaron Lennon mungkin bisa berlari dengan kecepatan bak mobil ferrari untuk menusuk ke pertahanan lawan. Sementara itu, Luka Modric dan Rafael Van Der Vaart boleh jadi adalah duo gifted midfielder dengan kemampuan passing serta visi permainan di atas rata-rata, tapi semua elemen tadi baru lengkap dengan kehadiran Scott Parker pada musim ini.

Hadirnya Parker, menjadikan lini tengah Spurs semakin lengkap dan menahbiskan Spurs sebagai salah satu pemilik barisan lini tengah terbaik di EPL musim ini. Bahkan, jauh lebih kuat dibanding lini tengah Manchester United maupun seteru utama mereka, Arsenal. Ironisnya banyak yang tak menyadari bahwa Parker lah sosok dibalik briliannya performa Spurs musim ini, tentu tanpa menepikan kontribusi dari pemain-pemain lain.

Parker mungkin tak sehebat Xavi Hernandez, Andrea Pirlo ataupun Michael Carrick dalam hal distribusi bola dari tengah ke depan. Ia juga bukan tipikal petarung yang gemar menghujani lawan dengan tackle-tackle kasar dalam perebutan bola seperti Michael Essien dan Nigel De Jong. Begitu juga soal kecepatan, dribble dan kemampuan melepas long shot, ia tak dikaruniai kehebatan tadi seperti halnya Steven Gerrard dan Frank Lampard. Jadi apa sebenarnya yang membuat Parker, mantan kapten West Ham United yang gagal menyelamatkan timnya dari jeratan degradasi musim lalu itu, menjadi sosok instrumental di lini tengah The Lilywhites musim ini?

Jawabannya adalah stamina dan determinasi, dua faktor yang menutupi kelemahan teknik Parker sehingga malah membuatnya seolah-olah memiliki seluruh kemampuan dari pemain-pemain yang saya sebutkan tadi, meski tidak sebagus mereka. Parker juga adalah salah satu gelandang dengan daya jelajah paling luas di EPL. Ia bisa berada di belakang menjadi De Jong untuk melakukan tekel, memberikan pressing dan melakukan intercept ketika lawan membangun serangan. Ia juga berperan sebagai Carrick dengan mengalirkan distribusi bola ke depan, dalam kasus ini kepada duo Modric-VdV, atau juga sesekali menjadi Lampard dengan merangsek naik memberikan opsi lain bagi rekan-rekannya di mulut gawang. Yap, Parker adalah all-rounder-midfielder.

Strategi Redknapp yang doyan mengoptimalkan dua gelandang flamboyan, yakni Rafa Van Der Vaart dan Luka Modric sebagai pemantik serangan Spurs, memang membuat lini tengah mereka beringas ketika melakukan serangan, apalagi ditunjang duo sayap pelari kencang semodel Gareth Bale dan Aaron Lennon, tetapi di saat bersamaan juga membuka lubang menganga di posisi the hole antara lingkaran tengah dengan kuartet backfour mereka akibat ketiadaan seorang stabilisator yang mumpuni.

Wilson Palacios yang musim lalu kerap mengisi posisi ini, lebih sering hilang arah di lapangan dengan berlari kesana kemari, seperti orang kebingungan alih-alih merusak serangan lawan. Sementara Sandro Raniere, bocah Brasil yang diharapkan jadi juru selamat "ruang mesin" Spurs, lebih kerap wara-wiri di ruang pemulihan cedera tinimbang berjibaku di lapangan. Jadilah musim lalu, Modric ditumbalkan untuk mengisi kelowongan posisi ini. Hasilnya tidak buruk memang, tapi tetap kurang maksimal.

Menyadari hal tersebut, awal musim ini, Redknapp mendatangkan Parker dengan banderol yang "cuma" 6 Juta Pounds. Jumlah  yang terbilang murah untuk pemain sekelas Parker. Padahal musim lalu, Parker terpilih menjadi Pemain Terbaik Liga Inggris versi FWA, asosiasi penulis sepakbola di Inggris.

Bandingkan dengan transfer Raul Meireles dari Liverpool ke Chelsea yang bernilai hingga 12 Juta Pounds, atau bahkan transfer mahal Samir Nasri dari tim non-glory-hunter ke klub penghambur uang, Manchester City, yang konon menghabiskan dana sampai 22 Juta Pounds. Nilai transfernya yang tidak bombastis, plus kepindahannya yang tidak banyak diselingi drama dan kehebohan, sedikit banyak mencerminkan betapa underrated-nya seorang Parker.

Padahal soal kontribusi Parker di lapangan, statistik ciamik yang dibuatnya menjawab semuanya. Catatan passingnya sampai dengan paruh musim ini sudah melampaui angka seribu, dengan rasio passing accuracy mencapai angka 89%. Ia juga sudah mencetak satu assist. Sementara itu, persentase kesuksesan ground duels-nya stabil di kisaran 55%. Parker juga membukukan 67 tackles dengan 70% diantaranya berakhir sukses, terbaik kelima di antara pemain-pemain EPL lainnya. Influence Parker di lapangan juga diakui dengan terpilihnya dia sebagai Tottenham Fans' Player of The Month selama 3 bulan berturut-turut sejak September hingga November lalu. Kehebatannya semakin sahih ketika dibaptis sebagai EPL Player of The Month bulan November.

Toh segenap catatan di atas tak membuat popularitas Parker menanjak, ia dinilai masih kalah kelas dengan midfielder-midfielder EPL lainnya. Parker tetap underrated. Ia sepertinya bernasib sama dengan Sergio Busquets, sosok gelandang tengah underrated lainnya, di Barcelona. Seperti Parker, Busquets juga tenggelam di bawah bayang-bayang Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan Cesc Fabregas, meskipun ketiga pemain tadi juga mengakui, betapa instrumentalnya seorang Busquets di lini tengah tim Catalan.

Mungkin nanti, di akhir musim, ketika Spurs merayakan kejayaannya dengan lolos ke Liga Champions (seperti dua musim silam) dengan menempati peringkat ketiga (atau mungkin juga peringkat kedua, dan bukan tidak mungkin juga menjadi juara EPL) Parker tidak lagi dikenal sebagai that-underrated-midfielder. Dia akan lebih dikenal sebagai  that-boss-of-the-central park. Kita tunggu saja.