Laman

Jumat, 25 Juli 2014

Atletico Madrid dan Sulitnya Melawan Keterbatasan Finansial


Selalu menyenangkan menyaksikan kejutan-kejutan yang terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola. Perkara giant killing, hasil-hasil anti klimaks, atau bagaimana sebuah tim yang tak terlalu diunggulkan bisa melesat hingga ke tangga juara adalah hal-hal puitik yang selalu berhasil membikin sepakbola tetap bertahan pada koridornya sebagai sebuah permainan dengan kadar relatifitas yang amat pekat. Sebagaimana adagium lama sering berujar bahwa bola itu bundar, segala sesuatunya memang bisa terjadi di dalam sepakbola.

Musim lalu kita semua sepakat bahwa kejutan terbesar datang dari distrik Arganzuela, di kota Madrid. Club Atletico de Madrid S.A.D melakukan kejahatan besar dengan menjadi kampiun La Liga setelah memporak-porandakan hegemoni Real Madrid dan Barcelona. Duopoli yang selama bertahun-tahun menguasai tampuk juara La Liga secara bergantian itu, musim lalu dipaksa menelan pil pahit setelah kompetisi balapan dua ekor kuda yang fasih mereka lakukan, justru berakhir dengan kemenangan si kuda hitam yang melesat dari belakang.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Los Colchoneros juga membikin ledakan hebat di ajang Liga Champions. Mereka kembali melakukan kejahatan besar setelah berhasil menumbangkan tim-tim besar macam AC Milan dan Chelsea untuk sampai di babak final Liga Champions yang dihelat di Estadio Da Luz. Kendati kemudian harus tumbang dari Real Madrid di babak perpanjangan waktu, segala perkara giant killing yang telah mereka lakukan membikin pencapaian mereka musim lalu amat layak untuk diganjar apresiasi dengan setinggi-tingginya, dengan sehebat-hebatnya.

Tak bisa dipungkiri, Atleti musim lalu adalah bandwagon yang selalu berhasil memancing simpatisan untuk hinggap menyaksikan pertunjukan mereka. Permainan yang atraktif, dengan pressing ketat dari lini tengah, passing-passing yang memanjakan mata, serta counter-attack yang mematikan dengan produktivitas yang istimewa dari seorang Diego Costa, adalah gimmick yang menggiurkan bagi kita semua agar betah berlama-lama menonton laga Atleti, sekalipun anda tak mendukung tim ini.

Sayang, apa yang mereka capai musim lalu besar kemungkinan tak bakal terulang lagi di musim ini. Silahkan tengok manuver mereka di bursa transfer musim ini dan anda akan mendapati kenyataan bahwa Atleti yang akan kita tonton di musim ini bakal sama sekali berbeda dengan apa yang kita tonton di musim lalu. Tidak tanggung-tanggung, sampai dengan tulisan ini dibikin, sudah ada sembilan pilar Los Rojiblancos yang hengkang dari Vicente Calderon. Dan tentu saja, jumlah itu masih sangat mungkin akan bertambah.

Adalah sebuah kewajaran bahwa di dalam sepakbola pemain bisa datang dan pergi kapanpun  mereka mau. Anda juga boleh saja menjadi pribadi yang optimistis dan bijak bestari laksana motivator di televisi, tetapi kehilangan nama-nama high profile semodel Diego Costa, Thibaut Courtois, David Villa, hingga pemain-pemain berdeterminasi tinggi seperti Adrian Lopez dan Filipe Luis jelas tidak akan menuntun tim anda kemana-mana kecuali ke dalam sebuah limbo yang kelam bernama keterpurukan. Jika kita ikut menghitung kekuatan rival mereka—Real Madrid dan Barcelona—yang terus berbenah dengan melakukan altas-bajas di bursa transfer, apa yang dilakukan Atleti sekarang tentu saja adalah sebuah degenerasi yang tidak terelakkan lagi.

kondisi keuangan Atletico Madrid, diambil dari blog Swiss Ramble

Akan tetapi perlu disadari juga, bahwa penjualan pemain bintang yang dilakukan Atleti adalah sesuatu yang bukan tanpa motif. Sebagai sebuah tim kelas dua, katakanlah demikian, Atleti memang sedang dihadapkan pada situasi cukup sulit. Tim-tim seperti mereka, biasanya memiliki sebuah filosofi sederhana dalam mengarungi sebuah kompetisi: bisa juara syukur, tidak juara pun tak mengapa. Yang terpenting adalah bagaimana margin profit mereka bisa terjaga, akan lebih baik lagi jika bisa meningkat. Sebab untuk sampai ke level sebuah klub mapan yang ikut berkompetisi di jalur juara, terlebih dahulu mereka harus survive di sektor finansial dan berhasil menjaga growth di sektor margin profit.

Di sinilah permasalahan yang dimiliki oleh Altetico Madrid: kondisi keuangan mereka tak pernah berbanding lurus dengan prestasi mereka di atas lapangan. Sejak era kepemimpinan Jesus Gil di tahun 1987, bisnis Atletico Madrid memang dijalankan dengan minim kalkulasi. Pembelian pemain yang jor-joran—turut disebabkan seringnya pergantian pelatih yang dilakukan—tak kurang menghasilkan angka net transfer spend mereka di kisaran minus 98,5 juta Euro untuk periode 2003 sampai dengan 2013.

Minimnya budget yang dimiliki toh tidak membuat Los Colchoneros mengerem aktivitas mereka di bursa transfer. Jika klub-klub minim dana biasanya harus menjual pemain mereka terlebih dahulu sebelum membeli pemain, Atleti malah memilih jalan yang rawan dengan menggaet pihak ketiga untuk membiayai kekurangan biaya altas-bajas mereka. Pembelian Radamel Falcao dua musim silam adalah salah satu bukti nyata kebijakan ini. Maka menjadi keniscayaan, jika kemudian kebijakan-kebijakan itu bermuara pada menggunungnya hutang klub. Berdasarkan data dari blog Swiss Ramble, hutang yang harus diampu Atletico Madrid pada tahun 2011 berjumlah 517 juta Euro. Dari angka sebesar itu, sekitar 155 juta Euro berasal dari hutang pajak terhadap pemerintah Spanyol.

Memang, Barcelona dan Real Madrid bukannya tak memiliki hutang sama sekali. Jumlah hutang kedua klub itu bahkan jauh lebih besar dari milik Atletico Madrid (578 dan 590 juta Euro). Akan tetapi, kedua klub ini mampu menghasilkan revenue dalam jumlah yang fantastis (rata-rata 450-an juta Euro) tiap musimnya. Bandingkan dengan rataan pendapatan per musim Atleti yang cuma berkisar di angka 100 juta Euro, dimana hampir separuhnya berasal dari pembagian hak siar televisi. Hal ini tentu saja mengakibatkan rasio debt cover yang dimiliki Atleti, tak sebagus milik duo clasico tersebut. Makanya, penjualan pemain besar-besaran yang sekarang tengah dilakukan oleh manajemen Atletico Madrid, adalah murni kebijakan bisnis yang kudu dilakukan, disaat harga pemain-pemain mereka sedang berada dalam peak price. It's a now or never business, dan mereka tidak melewatkannya begitu saja.

Melihat segala kondisi di atas, jika klub dengan kondisi keuangan yang relatif sehat seperti Borussia Dortmund saja terpaksa menjual satu per satu bintangnya kala tawaran dengan nominal besar datang menjemput, melulu untuk menjaga margin profit mereka, bagaimana mungkin Enrique Cerezo bisa berkata tidak ketika Roman Abramovich menawarinya "bantuan" untuk meringankan beban-beban di neraca keuangannya? Dan memang kenyataannya, menukar beberapa pemain dengan segepok uang segar, harus diakui, adalah salah satu langkah instan yang bisa mendatangkan uang dalam jumlah besar untuk menjaga stabilitas finansial klub. Sebuah ilmu yang telah kita pelajari baik-baik dari Monsieur Wenger dan caranya mengelola Arsenal.

Jika Real Madrid dan Barcelona adalah orang-orang kaya yang memiliki deretan Lamborghini dan Ferrari di dalam garasi mereka, maka Atletico Madrid musim lalu adalah tukang becak yang baru saja memenangkan undian berhadiah Nissan X-Trail, namun terpaksa langsung menjualnya kepada pihak ketiga lantaran tidak sanggup melunasi pajak hadiahnya. Ah, itu bahkan sebelum ia sempat memikirkan soal bahan bakar non subsidi untuk mobilnya.

Rabu, 30 Oktober 2013

Setelah Mario Gotze Tak Ada Lagi


Borussia Dortmund musim lalu adalah sebuah anti-klimaks. Bandwagon mereka yang melesat dengan meriah serta menjadi persinggahan baru bagi para hipster sepakbola dadakan, pada akhirnya malah bersemuka dengan akhir yang getir: dikalahkan Bayern Munich—musuh bebuyutan mereka—dalam dua kompetisi akbar sekaligus.

Selisih mencolok sampai dengan 25 poin di klasemen akhir Bundesliga musim lalu, serta gol kemenangan dari Arjen Robben pada final Liga Champions yang dihelat di Wembley, menghukum Dortmund dengan menapaktilasi jejak milik Bayern Munich semusim sebelumnya: mendapat gelar kehormatan sebagai tim yang hanya "nyaris juara".

Padahal, sampai dengan sebelum Niccola Rizzoli meniup peluit panjang di Wembley malam itu, tak sedikit yang menaruh harapan kalau Dortmund bakal menulis ulang kisah Cinderella dengan keluar sebagai juara Liga Champions. Mengangkangi tim kaya raya macam Bayern Munich, Barcelona, ataupun Real Madrid. Tapi apa boleh bikin, seperti kata Shakespeare, harapan adalah akar dari segala kekecewaan. Dan malam itu, kita semua tahu, satu-satunya kisah Cinderella yang ditulis ulang oleh Dortmund hanyalah bagian saat Cinderella disiksa oleh ibu dan saudari-saudari tirinya.

A series of unfortunate event yang menimpa Dortmund musim lalu terasa kian lengkap dengan hengkangnya the prodigy yang selama ini menjadi talisman mereka, Mario Gotze. Ironisnya, lagi-lagi Bayern Munich menjadi pihak yang memancing di air keruh ketika dengan jumawa mengumumkan transfer Gotze, hanya beberapa minggu jelang clash kedua klub di laga final. Jika Chairil Anwar menganalogikan nasib sebagai kesunyian milik masing-masing, saya bayangkan kesunyian yang diterima Dortmund musim lalu tentulah sebenar-benarnya keheningan yang absolut.

Akan tetapi perpisahan ataupun kekalahan seringkali tak melulu tentang akhir yang getir, ataupun ujung jalan yang rawan. Kadang-kadang perpisahan, juga kekalahan, kerap melahirkan a better beginning for deserved ending. Kepergian Gotze, kekalahan yang menyakitkan dari Muenchen musim lalu, boleh jadi memang meninggalkan codet yang perih di jidat segenap punggawa Die Borussen. Tetapi mereka paham betul, bahwasanya hak prerogatif untuk menolak beranjak dari masa lalu hanyalah milik The Script semata. Kegagalan, sepahit apapun itu, haruslah dilupakan selekas-lekasnya, juga secepat-cepatnya.

Maka hukum kekekalan sepakbola kembali berbicara di sini: ada yang pergi, pasti akan ada yang menggantikan. Tiga nama baru merapat ke Signal Iduna Park, menggantikan Gotze, dan juga Moritz Leitner serta Felipe Santana yang hengkang ke klub lain. Henrikh Mkhitaryan, Pierre-Emerick Aubameyang dan Sokratis Papastathopoulos adalah nama-nama yang dipilih Juergen Klopp untuk memperkuat skuatnya musim ini.

Nama pertama—Mkhitaryan—adalah orang yang didaulat Klopp untuk mengisi poros kreatif penyerangan yang ditinggalkan Gotze. Kemampuan umpan dan visi permainannya akan menjadi pendulum yang krusial menentukan kemana arah permainan Dortmund bakal bermuara. Catatan golnya bersama Shakhtar Donetsk musim lalu, yang mencapai angka 29, juga bakal membikin dirinya jadi salah satu pendulang gol yang bisa diandalkan oleh publik Westfallen.

Sementara dua nama lain, Aubameyang dan Sokratis, adalah jawaban untuk mengisi kedalaman skuat Dortmund yang musim lalu nampak setipis pembalut wanita. Terkhusus untuk Aubameyang, tipikalnya yang cepat dan ulet bakal sangat berguna bagi serangan balik "blitzkrieg" terapan Klopp. Ia juga bisa menjadi pelapis yang sepadan bagi Robert Lewandowski kala striker Polandia itu harus absen. Reputasinya sebagai penggedor gawang yang prominen telah terkulminasi lewat raihan podium kedua top skor Ligue 1 musim lalu. Kelak, jika Lewandowski jadi hengkang—mengikuti jejak Gotze—jelas kita semua tahu siapa orang yang akan didapuk Klopp sebagai deputinya.

Dan Juergen Klopp, well, is just being Klopp. Hasil manuvernya di bursa transfer selalu berhasil guna dan tak pernah mengecewakan. Kehilangan Mario Gotze sama sekali tak membikin Dortmund tumpul, pincang, atau apapun yang bersinonim dengan hal tersebut. Mkhitaryan berhasil menambal dengan sempurna ceruk besar yang ditinggal Gotze. Sementara Aubameyang, selepas mencatat hattrick di debutnya yang fenomenal, secara konstan terus menebar ancaman dari lini serang Dortmund saban kali dimainkan.

Dortmund memang masih berada di sana, di tempat yang sama dengan kualitas mereka musim-musim sebelumnya, sekalipun ditinggal pemain sekaliber Mario Gotze. Di kompetisi Bundesliga, Dortmund masih saling sikut dengan Bayern memperebutkan posisi top of the table. Sementara di kompetisi Liga Champions, Die Schwarzgelben masih jumawa memegang tampuk hegemoni Grup F—yang dibaptis sebagai grup neraka—dengan raihan sembilan poin. Terakhir, mereka menumbangkan the in form Arsenal di kandangnya sendiri dengan skor 1-2. Jelas sekali tidak ada imbas atas kepergian Gotze yang tergambar di sana, barang satu zarah sekalipun.

Pada akhirnya, Mario Gotze mungkin memang pernah menjadi dearest dear bagi sebagian besar fans Borussia Dortmund di seluruh dunia. Akan tetapi keputusannya menyeberang ke pelukan musuh saat Dortmund mulai menaruh harapan besar di pundaknya, membuat dirinya nampak seperti Judas yang kepalang kurang ajar. Dengan performa Dortmund yang masih baik-baik saja —kalau tak boleh dibilang impresif— sampai dengan saat ini, kepergian Gotze jelas bukanlah sebuah kisah sedih yang kudu dirayakan dengan senandung kidung-kidung sendu. Sebaliknya, kepergian Gotze mungkin malah lebih layak dikenang sebagai kisah usang dari seorang mantan kekasih yang mudah dilupakan.

Ah, terlalu mudah malah.

Senin, 14 Oktober 2013

Selepas Hujan, di Bawah Langit Senayan


Bagaimana rasanya kembali duduk di tribun Gelora Bung Karno, setelah sekian lama absen, cuma untuk menyaksikan perkara giant killing yang dilakukan timnas sepakbola kita terhadap tim dengan reputasi sebesar Korea Selatan? Tentu saja menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Bahkan walau untuk level timnas yang "hanya" sekelas U19.

Saya sungguh beruntung tengah berada di ibukota pada saat timnas U19, yang melejit sejak sebulan kebelakang, sedang melangsungkan pertandingan kualifikasi menuju Piala Asia U19 tahun depan di Myanmar. Keberuntungan yang semakin terasa menyenangkan karena selain saya akhirnya bisa menyaksikan bandwagon milik anak asuh coach Indra Sjafri secara langsung, mereka juga berhasil meraih kemenangan dan berhak lolos ke putaran final.

Sebuah kemenangan besar, tentu saja. Karena lawan yang dihadapi adalah Korea Selatan, tim dengan kaliber Asia, yang bahkan sudah mulai masuk peta kekuatan sepakbola dunia. Walaupun, sekali lagi, ini diraih hanya dalam level U19.

Dari tribun yang sedikit basah karena tertiup hujan yang turun cukup lebat sejak senja meredup, saya menyaksikan pertandingan kemarin malam bersama adik saya yang antusias—ini pengalaman pertamanya menonton pertandingan di stadion.

Hujan yang kian deras jelang kickoff, membikin beberapa orang yang tadinya duduk di kursi dekat pagar pembatas berlarian naik ke atas. Dan boleh jadi, hujan memang tengah mengukir suasana puitiknya sendiri dalam kemenangan timnas kemarin malam.


Dua puluh lima menit pertama, hujan bertanggung jawab membikin stadion yang konon paling megah di kolong langit negeri ini, tampak seperti petak-petak sawah yang siap panen. Ini menjadi sedikit ironis karena untuk stadion sekelas Gelora Bung Karno pun, sistem drainasenya ternyata masih tergolong di bawah standar. Beberapa titik di lapangan mulai tergenang air dan aliran bola yang coba digulirkan kedua tim kerap kali tersendat karenanya. Kedua tim yang sama-sama fasih bermain dengan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki terlihat sedikit gamang kala bola yang coba mereka kirim gagal mencapai titik tuju yang mereka mau gara-gara dihambat air.

Indonesia bereaksi cepat dalam situasi ini dengan mengganti pola bola pendek menjadi umpan lambung vertikal langsung ke wilayah final third. Ilham Udin yang lepas dari perangkap offside, berhasil mengirim umpan tarik yang tak bisa diintersep center back Korsel walau telah susah payah melakukan split dance ala personil boyband karbitan. Hujan sorak sorai lantas berhamburan saat Evan Dimas menghajar bola tersebut ke sudut tiang dekat. Sebuah momen orgasmik bergemuruh cukup lama di setiap sudut stadion.

Lima menit berselang, ganti hujan lemparan botol yang menghambur di lapangan. Penyebabnya adalah gol penalti Korea Selatan yang dicetak oleh Seol Tsaemu. Usai menaklukan Ravi Murdianto dari titik 12 pas, alih-alih melakukan selebrasi "annyeong haseyo!", Seol malah melakukan gestur provokatif ke tribun barat laut yang memancing teriakan "anying lah sia!" dari para penonton. Andai tidak ada jurang pemisah antara bangku penonton dengan lapangan, saya yakin penonton tak akan segan-segan memugar bedak yang konon luntur di wajah para pemain Korsel dengan botol-botol air mineral.

Setelah gol tersebut kondisi lapangan jadi semakin memprihatinkan, seperti jargon milik presiden kita. Pertandingan dihentikan sekitar setengah jam, menunggu supaya hujan sedikit mereda. Beberapa groundsman kemudian tampak bekerja keras meminmalisir genangan yang membanjir di lapangan dengan pitchfork. Sementara beberapa ofisial AFC mengabadikan lapangan yang tergenang air dengan kameranya. Untuk bahan laporan ke atasan mereka, mungkin.


Pertandingan dimulai kembali setelah hujan berhenti dan genangan di lapangan sedikit berkurang. Hujan yang berhenti mengguyur serta kondisi lapangan yang membaik jadi titik balik bagi Evan Dimas dkk. Seperti pelangi yang baru muncul setelah hujan reda, anak-anak U19 bermain lebih rapi dan terpola di babak kedua.

Menit ke-48, Evan Dimas kembali mengoyak jala Korsel memanfaatkan umpan tarik Maldini Pali yang mengobrak-abrik flank kiri Korsel sebelum mengirim umpan tarik. Penonton kembali kesetanan menyambut gol tersebut. Tentu saja. Siapa pula yang tidak girang kalau kita bisa kembali bikin gol ke gawang tim sekelas Korsel?


Ada pemandangan menarik dalam kemenangan yang diraih Ravi Murdianto cs kemarin malam. Kemenangan kemarin, bukanlah kemenangan buah hasil keberuntungan atau nasib mujur belaka. Ada kejelian penerapan strategi oleh pelatih, serta determinasi dan kedisiplinan pemain dalam menerjemahkan instruksi pelatih yang tergambar jelas di sana. Sebuah hal yang sejujurnya sangat tidak "Indonesia banget".

Tiga gol yang dicetak Indonesia tercipta dari skema yang nyaris serupa. Evan Dimas, yang sepanjang pertandingan tampil setenang biksu Tibet, dengan jeli memanfaatkan ruang kosong yang terselip di antara kuartet backfour Korsel dan dua gelandang bertahan mereka untuk mendapat ruang tembak. Ruang ini tercipta berkat pergerakan tiga pemain depan —Ilham Udin, Maldini Pali dan Mukhlis Hadi— yang berhasil meng-escort defense line Korsel supaya turun terlalu dalam ke kotak penalti mereka. Di sisi lain, dua poros ganda Korsel, Hwang Hee Chan dan Choi Ja Heun, terkonsentrasi di posnya masing-masing karena distraksi yang diberikan Zulfiandi dan Hargianto.

Di sinilah kejeniusan coach Indra Sjafri dalam memainkan strategi kembali terlihat. Sadar lawan punya keunggulan postur, Indra menginstruksikan winger-nya untuk mengirim umpan cutback, alih-alih melepas crossing sekenanya seperti kebiasaan strategi timnas pada umumnya. Saya mencatat ada setidaknya lima kali drill cutback yang dikirim dari sisi sayap. Dan semuanya membahayakan gawang Korsel. Makanya, saat Evan Dimas mencetak gol ketiganya, kita semua tahu kalau mitos tai kucing "Kita kalah postur" adalah sebenar-benarnya alibi atas kekalahan timnas yang sudah selayaknya dimusiumkan saja.

Pertandingan kemarin malam adalah salah satu pertandingan yang tidak akan pernah saya lupakan. Ada adrenalin yang meluap, endorfin yang masih dalam batas kewajaran, juga sedikit rasa tidak percaya saat menyaksikan papan skor yang menggantung di tribun belakang gawang. Walau ini hanya level U19, tengkuk saya merinding hebat jika mengingat momen dimana Evan Dimas mencetak gol ketiganya, juga saat wasit akhirnya meniup peluit panjang yang mengakhiri pertandingan. Mungkin karena sudah terlalu lama dicekoki prestasi timnas yang bapuk bukan buatan, kemenangan anak-anak U19 dua malam yang lalu sudah terasa menyenangkan betul.

Entah berapa kali saya menengadahkan kepala ke atas malam itu. Dua mata saya menerawang, menyaksikan langit Jakarta yang untuk kesekian kalinya masih kosong tanpa bintang, untuk kemudian sadar kalau kejadian yang ada di depan mata saya kemarin malam bukanlah halusinasi yang muncul akibat menenggak jamur kancing banyak-banyak. Kemarin malam, boleh jadi memang tidak ada bintang ataupun pelangi yang melengkung di langit Senayan selepas hujan deras yang mengguyur sejak senja turun. Akan tetapi melihat papan skor yang menunjukkan angka 3-2 untuk kemenangan Indonesia terasa lebih indah daripada melihat pelangi atau bintang apapun yang kini mulai jarang muncul di langit Jakarta.

Terima kasih, coach Indra Sjafri!

Sabtu, 28 September 2013

Manchester United Tak Akan Memenangkan Apapun Musim Ini


Saya membuat banyak dosa ketika menyaksikan pertandingan Manchester United melawan West Bromwich Albion semalam (28/9). Bagaimana tidak, saban kali United kehilangan bola, saya dibuat misuh-misuh dan mengumpat kata-kata kotor karena tak ada satu pun pemain yang melakukan pressing terhadap pemain lawan dengan benar.

Lini tengah United tadi malam tampak seperti kota mati. Tidak ada pressing yang mumpuni dari lini tengah United membuat pemain West Brom berlarian anarkis di wilayah pertahanan mereka seperti anak kecil yang baru pertama kali mengunjungi amusement park. Michael Carrick dan Anderson yang jadi poros ganda di lini tengah, cuma bisa berlari-lari kecil mendekati pemain lawan yang memegang bola di dekat mereka, seolah-olah kaki mereka sedang dibebat dengan jangkar seberat 100 kg.

Pressing yang butut dari para gelandang, semakin membuat pertahanan United tampak seperti penderita anemia yang baru siuman dari pingsan. Rio Ferdinand begitu mudah dilewati oleh Morgan Amalfitano dan Saido Berahino seolah-olah ia hanyalah manekin selamat datang di pusat perbelanjaan yang sedang mengadakan sale akhir tahun. Dua gol yang dicetak West Brom semalam, semuanya bermuara dari kesalahan Ferdinand dalam melakukan man marking.

Sial bagi Unted, karena pemain bertahan mereka yang lain melakukan aksi solidaritas dengan tampil tak kalah medioker dibanding Ferdinand. Phil Jones dan Alex Buttner yang mengawal sisi sayap sama-sama tampil shaky baik dalam bertahan maupun membantu serangan. Sementara Jonny Evans, well, just being Jonny Evans: ceroboh dalam melakukan positioning dan kikuk kala bertahan. It's totally a bad day at the office untuk pertahanan United, dan David Moyes tak punya pilihan lain sebab hanya Patrice Evra seorang satu-satunya pemain berposisi defender yang ia bawa di bench.

Pertahanan United yang babak belur dan buruk rupa menjadi sedikit ironis karena selama ini Moyes dikenal sebagai pelatih yang bertanggung jawab atas pertahanan Everton yang solid dan berdeterminasi tinggi. Pertandingan semalam menunjukkan kalau satu-satunya warisan taktik Everton yang sukses ia aplikasikan ke United adalah kemandulan yang mendera para striker. Dalam lima pertandingan terakhir United di EPL, mereka cuma mampu mengemas 4 gol yang kesemuanya berasal dari bola mati. Termasuk gol Wayne Rooney semalam, yang lagi-lagi dicetak melalui tendangan bebas.

Saya tak habis pikir kenapa Moyes justru menarik keluar Shinji Kagawa di babak kedua, alih-alih Anderson yang tampil abysmal. Padahal, Kagawa adalah pemain yang bisa memberikan kreatifitas yang dibutuhkan lini tengah United. Satu-satunya alasan kenapa ia kurang begitu eksplosif adalah karena ia ditempatkan di flank kiri, bukan gelandang serang yang diberi kebebasan untuk mengalirkan bola serta merangsek ke dalam kotak penalti lawan. Untuk alasan yang satu ini, rasa-rasanya kampanye #FreeShinji yang belakangan mulai marak bergaung di twitter layak untuk mendapat dukungan.

Tak adanya suplai killer pass ataupun defence splitting pass dari lini tengah membuat serangan United tampak sangat purba dan begitu mudah ditebak pasca keluarnya Kagawa. Serangan United terlihat monodimensional karena hampir dapat dipastikan mereka akan mengarahkan setiap serangannya ke sisi sayap. Kemudian winger-winger mereka yang payah akan berusaha melewati pemain lawan, melepas crossing sekenanya ke kotak penalti, berharap bek-bek West Brom membiarkan bola lewat begitu saja di atas kepala mereka, kemudian.... Jebret!! United mencetak gol.

Sebuah formula mencetak gol yang sangat naif bukan?

Jika United tak segera berbenah, sebaiknya mereka jangan dulu berbicara kans mempertahankan gelar juara EPL apalagi sampai muluk-muluk membayangkan indahnya mereguk trofi Liga Champions. Yang ada malah mereka harus mulai membiasakan diri mengalami kekalahan dari tim-tim non-unggulan seperti semalam. Saya bukan orang yang suka mendoakan orang lain supaya tertimpa keburukan, tapi penampilan medioker United semalam membuat saya semakin yakin kalau Manchester United tak akan memenangkan gelar apapun musim ini.

Yah, kecuali kalau gelar Community Shield tempo hari dianggap sebagai gelar yang prestisius.

Senin, 29 Juli 2013

Hari Raya, Pemain Sepakbola, dan Status Facebook Mereka


Hari raya Idul Fitri akan segera tiba, dan seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kedatangannya. Tak terkecuali dengan para insan sepakbola yang budiman dan rajin berdandan. Mereka —baik yang menganut ajaran Islam maupun tidak— sama-sama antusias menyambut datangnya hari akbar yang maha suci ini.

Atas nama eksistensi di dunia maya, pencitraan diri yang mumpuni, serta toleransi antar umat beragama, tak sedikit dari mereka yang mem-posting antusiasme mereka dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri, melalui akun Facebook mereka. Dan berikut ini adalah beberapa di antaranya, sebagaimana kami kutip langsung dari sumbernya, tanpa tedeng aling-aling:


Papiss Demba Cisse - Newcastle United / Senegal
Sebenernya ogut ogah make itu kostum Newcastle yang sponsornya dari uang riba'. Astaghfirullah, dosa besar itu. Tapi berhubung udah mau lebaran, yaudah ogut mau sedikit memaafkan dan legowo buat make kostum "haram" itu. Lagian kalo dipecat pas mau lebaran gini kan repot juga, THR-nya Inem sama Mang Ujang siapa yang bayar? Ogut nggak mau dianggep majikan yang dzalim.

Frederic Kanoute - Beijing Guoan / Mali
Ane baru tau beritanya Papiss Cisse yang kagak mau make jersey-nya Newcastle gegara sponsornya dari uang riba'. Cih, pasti dia ikut-ikutan kelakuan ane waktu di Sevilla dulu. Dasar plastik kolak! Basi tau nggak?! Madingnya udah mau terbit!

(Astaghfirullah ane kan lagi puasa, kenapa marah-marah begini...)

Demba Ba - Chelsea / Senegal
Duh, lebaran tahun ini ogut sholat Ied' di mana ya? Tahun kemarin sih enak, masih bisa sholat Ied' barengan Papiss di musholla deket St. James Park. Lah kalo di sini ane bukannya dapet temen jama'ah malah diajakin John Terry nyatronin bini temennya. Bahlul bener emang si bandot tua. Ogut sembelih juga lama-lama.

Samir Nasri - Manchester City / Perancis
Lebaran taon ini kayaknya gua kagak bisa selebrasi gol pake tulisan "Eid Mubarak" lagi deh. Yakali selebrasi, orang gua aja kagak pernah dipasang jadi starter sama pelatih. Tapipak, apa gua selebrasinya waktu ngegolin di latihan pemanasan aja kali ya? Yang penting kan Happy Eid Mubarak. Gitu?

Eric Abidal - AS. Monaco / Perancis
Astaghfirullah, orang-orang di Monaco ini, padahal udah masuk 10 malam terakhir Ramadhan. Bukannya pada i'tikaf di masjid, malah pada main judi sampe imsak, sambil cengengesan kayak orang mabok. Sahurnya pada minum khmer, ngabuburitnya mainan gaple. Mrakbal ente, kalo kata bang Madit Musyawaroh.

Ilkay Gundogan - Borussia Dortmund / Jerman
Lagi puasa begini tenggorokan jadi makin seret kalo keseringan dipake ngobrol sama temen-temen di Dortmund. Lo pikir aja sendiri gimana rasanya tenggorokan waktu nyebut nama-nama macem Jakub Blazcykowski, Kevin Grosskreutz, Pierre-Emerick Aubameyang, Lukasz Piszczek, Henrikh Mkhitaryan, Robert Lewandowski, sama Marcell Schmelzer. Nggak sekalian Lossjgmhbkvh Fajldnljgnvjdpkckckcz Klprnofjzczcdy, atau Porteyvnlsbvjkscm Autrnjldmvnvic aja?!

Tenggorokan gua jadi rengat-rengat stadium tiga nih. Untung banget masih ada Marco Reus sama Nuri Sahin di sini. Elhamdoulillah, ya Allah.

Steven Gerrard - Liverpool / Inggris
Akhirnya keinginan gue buat dapet medali sama piala lagi kesampaian juga pas tur pra-musim di Indonesia kemarin. Ini baru yang namanya berkah Ramadhan. Bakalan gue simpen baik-baik deh ini medali. Allahuakbar!

Bambang Pamungkas - Tanpa klub / Indonesia
Selamat Hari Raya kepada rekan-rekan sekalian. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Utamanya kepada mereka yang merasa terganggu karena akun twitter @bepe20 menjadi spammer link dari portal berita olahraga. Sejujurnya, saya pun terganggu akan hal tersebut. Tetapi demi selalu tersedianya oseng pare dan sambel goreng ati dari dapur saya, saya harap kalian dapat memakluminya, hehehe.

Kurnia Meiga - Arema / Indonesia
Mari lebaran taun iki ayas pengen tobat temenan. Rajin sholat, rajin ngaji, karo nabung dinggo munggah haji. Yok opo seh main bal-balan ping telu wae iso sampek kebobolan 17 gol. Tobat, Cak!

(bagi yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Kurnia Meiga, silahkan cari sendiri terjemahannya)

David Moyes - Manchester United / Skotlandia
Akhirnya bulan puasa udah kelar, tim gua bisa jadi jagoan lagi. Dasar orang-orang bego yang bikin hashtag #MoyesOut gara-gara hasil pre-season MU kemarin bapuk sejak dalam pikiran. Namanya juga bulan puasa, setan-setan kan pada dibelenggu dan dirantai, makanya mainnya jelek. Sekarang waktunya balas dendam sudah tiba. Unleash the Kaiju! #MoyesIn

Arsene Wenger - Arsenal / Perancis
Orang-orang muslim puasanya udah pada kelar ya? kagak ada toleransinya sedikit gitu kek sama klub gua yang udah delapan tahun puasa gelar? Kapan lebarannya nih tim gua, hilal-nya aja nggak pernah keliatan. Syuraaamm.

Robin van Persie - Manchester United / Belanda
Siap-siap ke JNE mau kirim parsel lebaran buat Sagna sama Diaby di Ashburton Grove. Sekalian aja gue selipin brosur "Glory Hunter" dari klub gue yang sekarang. Kali aja mereka jadi inget lagi sama nasehatnya Eyang Pramoedya waktu kita ikutan Porseni dulu: "Orang boleh jago main bola setinggi langit, tapi selama ia tidak pernah jadi juara, niscaya ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."


(fin.)

Rabu, 13 Maret 2013

Jan Vertonghen, dan Musim Perdana yang Gemilang di London Utara


White Hart Lane, 7 Maret 2013.

Totenham Hotspur tengah menjamu tamunya yang datang jauh-jauh dari peninsula Italia, Inter Milan, dalam first leg lanjutan Europa League, fase 16 besar. Memasuki menit ke 56' pertandingan, Tottenham yang sudah di atas angin berkat gol cepat Gareth Bale dan poacher's effort dari Gylfi Sigurdsson, kembali mendapat peluang emas melalui set-piece tendangan penjuru. Gareth Bale, yang sepanjang jalannya pertandingan merajalela dan membuat pertahanan Inter kalang kabut, bertugas mengambil tendangan tersebut.

Lengkungan parabolik segera dikirim Bale ke dalam kotak 16 meter. Dan beberapa detik setelahnya, bola yang melayang di antara Esteban Cambiasso dan Cristian Chivu, tiba-tiba saja ditanduk masuk oleh seorang pemain Spurs yang datang dari blind side. Gol, dan skor pun berubah menjadi 3 - 0, hanya untuk membikin Javier Zanetti menghela nafas panjang dan sedikit mendapat pencerahan perihal kapan waktu yang tepat baginya untuk gantung sepatu.

Beberapa hari sebelumnya, masih di White Hart Lane juga, pemain yang sama adalah orang yang layak bertanggungjawab atas deformasi hulu ledak meriam-meriam Arsenal yang berubah menjadi serentengan kembang api mejan. Menguasai ball possession dan alur serangan sejak awal pertandingan, sepakbola indah a la The Arsenal Way seakan-akan terhambat traffic jam yang menyebalkan saban memasuki area  final third.

Dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2 -1 untuk The Lilywhites itu, tercatat setidaknya dua kali si pemain melakukan last ditch takcle yang  membuyarkan momentum Arsenal untuk membahayakan gawang Hugo Lloris. Sosoknya terlihat begitu instrumental dalam menggalang harmonisasi high defensive line yang diterapkan Andre Villas-Boas, sehingga mengganjarnya dengan gelar man of the match di akhir laga.

Dan pada dua laga tersebut, selain dua kemenangan akbar yang berhasil diraih The Lilywhites, kita juga disuguhi sebuah highlight tentang musim debut yang gemilang milik seorang Jan Vertonghen, defender kelahiran 24 April 1987, yang sedang kita bicarakan sedari tadi.

Musim ini Gareth Bale boleh saja ditahbiskan sebagai talisman paling keramat bagi Tottenham Hotspur, berkat gol-golnya yang begitu krusial. Tapi jika anda mengesampingkan keberadaan Jan Vertonghen sebagai salah satu pilar paling penting di balik performa mengkilap Spurs di bawah kepemimpinan Andre Villas-Boas, anda jelas tidak termasuk ke dalam golongan manusia yang adil sejak dalam pikiran, sebagaimana telah difatwakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Pensiunnya Ledley King di akhir musim lalu, semakin rentanya William Gallas, serta terlalu kerapnya dua bek utama mereka, Michael Dawson dan Younnes Kaboul, wara-wiri ke ruang perawatan akibat mengalami cedera, membuat Spurs mau tak mau harus segera melakukan reformasi di lini pertahanan mereka dengan mendatangkan personil anyar. Dan Daniel Levy, pakar bisnis yang punya rekam jejak bernas dalam manuver transfer pemain, paham betul dengan apa yang dibutuhkan timnya dengan mendaratkan Vertonghen ke White Hart Lane.


Statistik musim ini mencatat bahwa Vertonghen adalah defender yang klinis dan komplit. Rataan 81% tackle win, 64% aerial duel win, dan 66% ground duel won miliknya memang bukan yang terbaik di antara defender-defender Premier League lainnya, tapi angka tersebut sudah cukup untuk menempatkan Vertonghen konsisten berada di jajaran empat besar pemilik statistik defensive terbaik di Liga Inggris. Ini belum jika ikut menghitung rataan 3,1 intersep per pertandingan miliknya, yang hanya kalah dari rataan 3,3 intersep milik Chico Flores.

Ketenangan dan konsentrasi Vertonghen di lini belakang juga tergolong baik dimana ia tercatat hanya sekali membikin defensive error yang membahayakan timnya, tanpa pernah sekalipun membuat gol bunuh diri. Bandingkan dengan kompatriotnya di timnas Belgia, Thomas Vermaelen, yang telah melakukan 4 kali error, dengan tiga diantaranya berujung dengan bobolnya gawang Arsenal.

Vertonghen juga tergolong pemain yang produktif, untuk ukuran bek. Sampai dengan pekan ke-29 Premier League musim ini, ia sudah mengemas tiga gol, seimbang dengan jumlah gol milik striker ternama macam Jay Rodriguez, Gervinho, ataupun Andy Carroll (tolong jangan tertawakan mereka, hahaha). Ini bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya, mengingat pada musim kemarin, ia sanggup membukukan 10 gol bersama Ajax Amsterdam.

Dari segi taktik, keberadaan Vertonghen di jantung pertahanan Spurs juga bukan sesuatu yang mubazir, kalau tak boleh dibilang sangat bermanfaat. Dalam skema backfour milik AVB, yang memancang garis pertahanan relatif tinggi, keberadaan bek dengan kondisi fisik prima, mampu beradu lari dengan sprinter tim lawan, memiliki positioning yang baik, serta prominen dalam melakukan tackle adalah sesuatu yang fardhu 'ain hukumnya. Dan penampilan Vertonghen kala menghadapi Arsenal pekan lalu, menunjukan kalau ia adalah juru selamat yang dibutuhkan Villas-Boas.

Apalagi jika mengingat Vertonghen adalah pemain yang versatile. Selain tangguh ditempatkan sebagai centre-half, dirinya juga terkenal piawai kala ditempatkan sebagai fullback kiri dan gelandang bertahan.

Musim ini ia sempat beberapa kali dimainkan sebagai bek kiri oleh AVB, ketika badai cedera datang menghantam Benoit Assou-Ekotto dan Kyle Naughton. Hasilnya tidak buruk-buruk amat. Ia bahkan sempat membikin Jonny Evans terlihat bodoh kala membelokkan tendangan kerasnya ke gawang David De Gea, saat bersua Manchester United di Old Trafford.

Atas segala catatan positif di atas, tentu bukan sesuatu yang musykil jika kita menyebut kalau mantan kapten Ajax Amsterdam ini tengah menjalani musim debut yang gemilang di London Utara. Keputusannya menolak tawaran Arsene Wenger untuk bergabung dalam organisasi kepemudaan Ashburton Grove, dan bersekutu dengan The Lilywhites, barangkali adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuatnya dalam hidup.

Kelak, di akhir musim nanti, saat Tottenham berhasil mengamankan tiket untuk berkompetisi di Liga Champions, kita tahu bukan hanya Gareth Bale seorang yang pantas dielu-elukan namanya oleh para pegiat #COYS. Ada seorang Jan Vertonghen, yang juga layak mendapat applause dari segenap pendukung Spurs di seluruh dunia.

Dan beberapa kilometer dari White Hart Lane, tampak sosok Arsene Wenger sedang mengemasi pernak-pernik yang sudah disiapkan untuk merayakan hari raya St.Totteringham Day, ke dalam kardus dengan wajah masgul.

Eh, itu juga kalau dia belum dipecat sampai akhir musim.

Senin, 14 Januari 2013

Il Faraone Furioso


Muda, berbakat, dan berambut nyeleneh. Sepertinya itulah pendeskripsian yang cukup akurat untuk menggambarkan rising star milik AC Milan: Stephan El Shaarawy. Rambutnya yang seperti landak itu memang kelampau nyeni untuk ukuran pemain sepakbola. Sampai-sampai, seandainya ada award untuk pemain sepakbola dengan model rambut paling anti mainstream, barangkali El Sharaawy akan menjadi salah satu nominee-nya, bersaing ketat dengan Carlos Valderrama, Joleon Lescott, ataupun Taribo West.

Tapi kita tidak perlu berlarut-larut mengurusi seperti apa model rambut El Sharaawy seharusnya. Sebab kali ini, kita tidak sedang membahas rambut-rambut tajam milik El Shaarawy. Kita sedang membicarakan bagian lain dari El Shaarawy yang juga tak kalah tajam: finishing touch-nya. Ability yang sejauh ini berhasil mengantarkannya sebagai capocanonieri sementara Milan di Serie A, dengan torehan 14 gol.

Mencuatnya El Shaarawy sebagai talisman termutakhir milik AC Milan sejatinya tak semengejutkan penunjukkan Roy Suryo sebagai Menpora. Talenta besarnya sudah lama jadi buah bibir di kalangan media Italia — Shaarawy adalah pemain termuda keempat yang melakukan debut Serie A dengan usia 16 tahun 55 hari — sejak dua tahun lalu. Tapi menilik kiprahnya musim lalu, rasa-rasanya hanya sedikit orang yang berani bertaruh kalau The Little Pharaoh, begitu ia biasa dijuluki oleh Milianisti, akan bersinar terang dan mencetak banyak gol musim ini.

Petualangan El Shaarawy musim lalu sebetulnya tak bisa dibilang buruk. Sebagai pemain muda yang minim pengalaman di tim besar, Sharaawy berhasil mencetak empat gol dari 28 kali penampilannya bersama Rossoneri — mayoritas dengan turun sebagai pemain pengganti. Tapi, siapa yang bakal menyangka kalau dia akan meledak di musim ini, bahkan menjadi prima punta mematikan dengan torehan gol yang mampu bersaing dengan striker-striker kawakan Serie A macam Edinson Cavani atau Antonio Di Natale? Mari bertanya pada Massimo Ambrosini, Il Capitano AC Milan, yang beberapa waktu lalu kalah bertaruh menyoal jumlah gol yang akan dicetak El Shaarawy pada musim ini.

Di awal musim, Ambrosini memberi tantangan kepada Il Faraone apabila dirinya berhasil mencetak tujuh gol sebelum natal, Ambro akan mentraktir liburan musim panas El Shaarawy ke salah satu pegunungan di Italia. "If you score seven goals before Christmas, I will pay for your holidays," katanya waktu itu. Challenge Accepted, dan entah kebetulan atau tidak, El Sharaawy jadi rajin mencetak gol setelahnya.

Mulai dari cannonball ke gawang Udinese yang membuka rekening golnya, doppietta saat bersua Cagliari, dan berturut-turut setelahnya gawang Parma, Zenit St. Petersburg, Lazio, dan Genoa yang dijebol El Shaarawy, telah membuat dirinya berhasil mengerek laju Milan di pelbagai kompetisi serta mencapai target yang dipatok Ambrosini, bahkan sebelum Oktober berakhir. 

Tak ingin kalah dengan mudah, Ambrosini kemudian menaikkan betting limits-nya menjadi sepuluh gol, dengan iming-iming berupa liburan ke Kepulauan Karibia bagi Il Faraone. Gayung bersambut, dan hanya butuh satu bulan bagi dirinya untuk kembali membuat Ambrosini tepekur sekaligus tersenyum. Adalah getaran jala Palermo, Chievo, serta brace ke gawang Napoli lah yang memberi garansi bagi El Shaarawy agar bisa membuat kicauan semodel "Touchdown Carribean!" melalui akun twitter-nya pada Juni mendatang.

Perlahan tapi pasti, El Shaarawy mulai menapaki jalannya menuju bintang utama AC Milan. Total golnya yang sudah mencapai agka 17 di segala ajang, menyumbang sekitar 40% dari jumlah gol Milan, telah membawanya jadi semacam Robin van Persie-nya AC Milan. Dengan  labilnya penampilan attacante Milan lainnya, semisal Bojan Krkic dan Giampaolo Pazzini, otomatis hanya El Shaarawy lah satu-satunya striker yang bisa diandalkan Milan untuk jadi juru gedor saat ini. Belum lagi jika menghitung hengkangnya Alexandre Pato ke Corinthians pada winter break kemarin, urgensi Si Pharaoh Kecil jadi makin kentara di sana.

AC Milan memang tengah berada dalam masa transisi di musim ini. Hengkangnya bintang-bintang mapan dan veteran tak ubahnya proses meranggas yang melanda pepohonan pada musim kemarau. Dari mulai Zlatan Ibrahimovic, Andrea Pirlo, Thiago Silva, Pippo Inzaghi hingga Alessandro Nesta, adalah nama-nama yang mengantar Il Diavolo Rosso jadi kampiun Serie-A pada musim 2011/2012 namun sudah tak lagi jadi bagian mereka di musim ini. 

Kita sama-sama tahu, cepat atau lambat, dengan makin senjanya usia pemain-pemain veteran Milan dan kian kempisnya isi dompet Silvio Berlusconi yang dianggarkan untuk Milan, transisi ini memang bakal kejadian. Dan kita juga tahu, tak selamanya transisi bisa berjalan dengan mulus. Tapi selama El Shaarawy masih meneruskan performa gemilangnya, para fans Milan seharusnya tak perlu khawatir secara berlebihan soal masa depan klub kesayangannya. Sebab mereka, kini punya andalan baru yang siap mengemban tugas untuk memastikan transisi yang dijalani Milan tidak berlangsung dengan banal. Seorang pemain, yang kelak akan didengung-dengungkan namanya di seantero stadion, saban kali Milan bertanding.

Brace yourself, Il Faraone Furioso is coming!

Sabtu, 12 Januari 2013

Alternatif Tim Terbaik Dunia 2012, yang Tak Melulu dari La Liga


FIFA baru saja merilis sebelas nama pemain sepakbola yang, menurut mereka, paling pantas untuk mengisi daftar line-up tim terbaik dunia untuk tahun 2012. Dari sebelas nama yang mereka rilis, sulit rasanya untuk menyangkal bahwa pilihan mereka adalah pemain yang memang tampil gemilang di posisinya masing-masing sepanjang tahun 2012. Nama-nama seperti Lionel Messi, Radamel Falcao, Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, hingga Iker Casillas adalah sosok-sosok bertalenta tinggi yang memang pantas untuk mengisi daftar tersebut.

Satu yang sedikit membikin kita mengernyitkan dahi kala melihat daftar rilisan FIFA tersebut, barangkali, adalah fakta bahwa dari sebelas pemain tersebut, kesemuanya adalah pemain-pemain yang berkiprah di La Liga. Tidak ada yang berasal dari Premier League, Bundeslliga, Serie A, apalagi dari Liga Islandia. Bahkan, jika ditilik lebih spesifik lagi, sepuluh dari sebelas pemain tersebut, adalah jugador yang berasal dari dua kutub sepakbola Spanyol belaka : Barcelona dan Real Madrid. Hanya menyisakan Radamel Falcao seorang sebagai satu-satunya hipster, yang tak berasal dari golongan kaum classico.

Anda boleh saja sepakat, anda boleh saja mengkritik. Sebab pro dan kontra, memang sesuatu yang lumrah di dunia ini. Tapi untuk sekedar bersenang-senang, TPFC meluangkan waktunya untuk membikin daftar sebelas pemain, di luar pilihan FIFA, yang juga layak untuk diberi label terbaik di posisinya masing-masing. Hitung-hitung sebagai alternatif tim terbaik dunia, bagi mereka-mereka yang menganggap para panelis dari FIFA hanya menonton pertandingan sepakbola ketika laga El-Classico mentas saja. 

So, here they are with a 4-3-3 formation :

GK - Gianluigi Buffon - Italy / Juventus
Iker Casillas dan gelar kiper terbaik dunia memang sebuah keniscayaan untuk saat ini. Tapi penampilan Gianluigi Buffon di bawah mistar sepanjang 2012 juga bukan sesuatu yang biasa-biasa saja. Juventus diantarnya meraih scudetto tanpa pernah merasakan kekalahan sekalipun. Jumlah bola yang bersarang di gawangnya dalam semusim kompetisi Serie A pada musim lalu pun, tak kalah minim daripada kapasitas seorang Roy Suryo kala ditunjuk sebagai Menpora, hanya 16 gol. Ia juga turut andil membawa Gli Azzuri lolos ke final Piala Eropa 2012, sebelum akhirnya tumbang oleh Spanyol di partai puncak.

RB - Lukas Piszczek - Poland / Borussia Dortmund
Meraih gelar juara Bundesliga secara back-to-back bersama Borussia Dortmund, sekaligus (kembali) membikin Bayern Munich harus puas hanya jadi runner-up, barangkali tidak cukup untuk menjustifikasi seorang Lukas Piszczek sebagai seorang bek kanan yang brilian. Pergerakannya yang liat kala overlap, plus kemampuan mumpuninya dalam bertahan, membuatnya jadi salah satu pemain yang paling fasih memerankan role sebagai fullback modern. Empat gol dan tujuh assist, berbanding perolehan satu kartu kuning di sepanjang musim lalu adalah bukti sahih kehebatannya, sekaligus membuat kita jadi bertanya-tanya, merek rokok apa yang dihisap panelis FIFA kala memilih Dani Alves sebagai bek kanan di tim terbaik dunia 2012.

CB - Vincent Kompany - Belgium / Manchester City
Manchester City sejak dulu terkenal dengan pertahanan mereka yang rentan ditembus, bak tulang manusia yang terkena osteoporosis. Tapi musim lalu anomali terjadi. Mencetak gol ke gawang City adalah sebuah hal yang tak pernah mudah, bahkan untuk tim sekelas Manchester United sekalipun. Dan Vincent Kompany adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas hal tersebut. Penampilannya yang lugas dan cermat dalam mengantisipasi serangan lawan, adalah salah satu kunci yang mengantar The Citizen berhasil menggondol mahkota juara Premier League musim lalu. Satu golnya ke gawang United dalam laga derby, adalah momen yang jadi tonggak kebangkitan City dalam mengejar defisit poin dari United.

CB - Jan Vertonghen - Belgium / Ajax Amsterdam = Tottenham Hotspur
Memasukkan Vertonghen ke dalam formasi tim terbaik dunia barangkali sedikit debatable. Ia tidak tampil di panggung Euro karena Belgia memang tidak sanggup lolos dari fase kualifikasi. Lain dari itu, Vertonghen juga hanya bermain di kompetisi Eredivisie yang kualitas persaingannya tak semengkilap Premier League, La Liga, ataupun Serie A. Makanya, gelar juara yang diraihnya bersama Ajax  musim lalu tak bisa dibilang cukup mentereng untuk dimasukkan ke dalam curiculum vitae. Tapi yang bagus harus tetap dinilai bagus, dan musim lalu, penampilan Vertonghen memang prolific dalam menggalang pertahanan De Godenzonen. Total 42 caps dengan catatan 10 gol di sepanjang musim lalu, sama sekali bukan catatan yang buruk untuk seorang bek tengah.

LB - Phillip Lahm - Germany / Bayern Munich
2012 barangkali bukan tahun yang ingin dikenang oleh Phillip Lahm. Mengapteni Bayern Munich dan tim nasional Jerman, Lahm harus puas tak meraih satu gelar juara pun pada musim lalu. FC Hollywood hanya mampu diantarnya jadi runner-up di segala ajang yang diikutinya. Sementara bersama Die Nationalmanschaft, Lahm hanya sanggup bertahan sampai fase semifinal. Meskipun demikian, harus diakui, Lahm adalah salah satu performer yang paling konsisten penampilannya musim lalu. Bahkan meski kerap bolak-balik berganti posisi antara menjadi bek kanan atau bek kiri.

DM - Sergio Busquets - Spain / Barcelona
Seperti kata Pangeran Siahaan dalam tulisannya, kebanyakan orang-orang memang hanya mampu mengingat Sergio Busquets atas kelakuan-kelakuan tidak terpujinya saja. Padahal, Busquets adalah instrumen penting bagi permainan tiki-taka milik Barcelona, yang kemudian juga turut diduplikasi oleh Vicente Del Bosque di timnas Spanyol. Golden Triangle-nya bersama Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, adalah jaminan atas penguasaan ball possesion di lapangan tengah, tak peduli siapapun lawan yang dihadapi. Selain kembali meraih juara Piala Eropa bersama Spanyol, salah satu highlight istimewa dalam perjalanan Busquets musim lalu adalah ketika dirinya dimainkan pada posisi hibrida half back oleh Pep Guardiola.

CM - Andrea Pirlo - Italy / Juventus
Andrea Pirlo adalah filsuf ranah sepakbola. Umpan-umpan akuratnya adalah upaya dekonstruksi paling menakutkan bagi teori bertahan milik tim manapun. Usianya yang kian senja, hal yang membuat Milan melepasnya ke Juventus dengan status free transfer, nyatanya tak mampu membatasi talenta brilian yang bersemayam dalam dirinya. Justru dengan usia yang makin menua, Pirlo semakin menjadi-jadi. Tak ubahnya sebotol wine yang makin nikmat untuk ditenggak bila semakin berumur. Gelar juara Serie A bersama Juventus dalam rekor unbeaten semusim, plus menapak laga final Euro adalah torehan yang dicapainya sepanjang musim lalu. Oh, jangan lupakan juga soal Panenka's chip-nya ke gawang Joe Hart. Pure class effin a!

CM - Yaya Toure - Ivory Coast / Manchester City
Simak dengan cermat seluruh pertandingan Manchester City musim lalu dimana Yaya Toure dimainkan, dan anda akan menemukan similaritas antara orang keturunan Cina dengan seorang Yaya Toure: mereka sama-sama ada di mana-mana. Physical presence-nya yang beringas, akurasi umpan dan tembakan yang prominen, serta stok stamina yang seolah tak habis-habis, membuat Toure punya segala hal yang dibutuhkan seorang box-to-box midfielder untuk menyelusuri tiap inci lapangan guna memperebutkan bola. Keberadannya di posisi 9 dalam 100 pemain terbaik dunia versi situs Guardian, rasa-rasanya bukan sebuah hal yang keliru.

ST - Edinson Cavani - Uruguay / Napoli
Di tengah eksodus beberapa pemain besar yang melanda Serie A beberapa tahun belakangan, Edinson Cavani justru menemukan masa-masa kejayaannya di Naples. Napoli, bersama Marek Hamsik dan Ezequiel Lavezzi, dibawanya jadi poros kekuatan baru Serie A dengan menjuarai Coppa Italia dan lolos dari fase grup Liga Champions. Total 33 golnya musim lalu membuat tatanan rambut gondrongnya yang selalu acak-acakan itu bisa sedikit dimaafkan.

ST - Robert Lewandowski - Poland / Borussia Dortmund
Sejak kepergian Jan Koller bertahun-tahun lalu, lini depan Dortmund tidak pernah sama lagi. Pemain-pemain datang dan pergi, tapi tak satupun berhasil membawa garansi bagi tajamnya penyerangan Die Schwarzgelben. Sampai kemudian Robert Lewandowski datang dan membawa perubahan. Total 59 gol yang dicetaknya selama 3 musim berkostum Dortmund membuatnya jadi talisman baru bagi Dortmund. Musim lalu adalah musim terbaiknya dimana Ia mencetak 30 gol untuk membawa Dortmund jadi kampiun Bundesliga dan DFB Pokal. Dan sejak saat itulah, Doing a Lewy menjadi frasa baru yang jamak digunakan oleh para fans Dortmund sebagai padanan kata untuk "mencetak gol".

ST - Robin van Persie - Holland / Arsenal = Manchester United
Mencetak 34 gol musim lalu bagi Arsenal dan kini 20 gol, hingga paruh musim, bagi Manchester United sudah cukup menceritakan kualitas dari Robin van Persie. Chant dari suporter yang berbunyi: "He scores when he wants" memang selayaknya tersemat untuk seorang RVP. Because he really fuckin' scores, when he wants.

Through Pass for Chicharito alternative Best XI 2012

* Honorable Mentions :

GK - Petr Cech - Czech Republic / Chelsea
CB - Thiago Silva - Brazil / AC Milan = Paris Saint Germain
AMF - Mesut Oezil - Germany / Real Madrid
CF - Mario Gomez - Germany / Bayern Munich

Kamis, 06 Desember 2012

Hey, I Just Michu


Emirates Stadium, 1 Desember 2012. Pertandingan  antara Arsenal dan Swansea sudah hampir memasuki masa purna, tapi papan skor menunjukan kedudukan masih dalam skor kacamata. Tuan rumah yang sedang dalam posisi tak mengenakkan, hanya memenangi tiga dari sembilan laga kandang, sangat membutuhkan kemenangan supaya kegeraman dan kekecewaan dari para suporter yang sudah hampir mendekati ambang batas, bisa mereda sesaat. Mereka tahu kalau hasil imbang, apalagi kekalahan, bukanlah opsi yang bisa dipertimbangkan. Meraih kemenangan adalah sebuah harga mati.

Tapi hal itu tak pernah kejadian. Memasuki menit ke 88', seorang pemain bertubuh besar menerima umpan Chico Flores dari sisi kanan. Meski first touch-nya saat itu kurang begitu sempurna, ia masih sempat memaksakan kerjasama satu-dua dengan Luke Moore yang masuk dari flank kiri. Bola terobosan Moore, yang membelah kerumunan defender The Gunners, kemudian dilengkungkan oleh sang pemain ke tiang jauh. Wojciech Szczesny, yang sepanjang pertandingan tampil impresif, sudah kadung maju pasang badan dan tak bisa berbuat banyak kecuali melihat si kulit bundar melesak ke jala gawangnya. Swansea unggul 1-0, dan berhasil membikin Arsene Wenger yang sejak awal pertandingan mencoba untuk terlihat cool, langsung beranjak dari dugout dengan wajah masygul untuk meneriaki anak buahnya.

Tapi mimpi buruk Arsenal rupanya belum berakhir sampai di situ. Di menit-menit akhir injury time, pemain yang sama kembali membobol gawang Arsenal. Kali ini setelah Carl Jenkinson, yang kelihatannya terlalu lentur untuk ukuran pemain sepakbola, terjatuh dengan tidak gagah setelah "dirampok" oleh tekel Nathan Dyer. Berhadapan one-on-one dengan Szczesny, si pemain tidak kesulitan untuk membuat Arsene Wenger kembali garuk-garuk kepala atas performa lini belakangnya yang lebih mudah ditembus daripada saringan tahu.

Dengan dua golnya malam itu, si pemain lantas menahbiskan dirinya sebagai top skorer sementara Premier League dengan torehan 10 gol, sejajar dengan bomber tenar macam Robin van Persie dan Luis Suarez. Ya, kita memang sedang membicarakan seorang Miguel Perez Cuesta, atau yang lebih beken dengan nickname-nya yang sedikit bernuansa imut itu : Michu.

Mulanya tak banyak yang mengenal gelandang serang kelahiran Oviedo 26 tahun lalu ini. Bahkan meski musim lalu dirinya mencetak 15 gol di kancah Liga Spanyol, paling subur di La Liga untuk ukuran pemain tengah — unggul jauh dibanding gelandang mentereng lain macam Mesut Ozil, Santi Cazorla dan Cesc Fabregas. Bahkan juga, ketika tim-tim besar sekelas Manchester United dan Liverpool sempat dirumorkan tertarik untuk merekrutnya, kita semua tak pernah menganggap terlalu serius eksistensi seorang Michu. Baru ketika Premier League mulai menyibak tirai kompetisinya lah, orang-orang mulai aware terhadap Michu.

Menghadapi Queens Park Rangers di partai debutnya 18 Agustus silam, Michu langsung mengemas dua gol dan satu assist untuk mengantar Swansea menghancurkan QPR dengan skor mencolok 0 - 5. Dan orang-orang yang selama ini hanya menyaksikan siaran Liga Spanyol ketika laga El Classico mentas, dibuat serempak memekik heran "Miguel who? what Michu? " ketika diberitahu kalau orang yang namanya tercatat dua kali di scoresheet malam itu sebelumnya merumput di La Liga.

"My debut in the Premier League was incredible," kenang Michu, "It will be hard to score two goals in every game but I promise the fans, I will give my best in every game."

Dan Michu menjawabnya dengan gol-gol dan konsistensi.

Total sepuluh gol yang telah dicetaknya dari 15 pertandingan bersama Swansea membawanya jadi salah satu predator yang paling ditakuti di kotak penalti. Statistik selalu membuat satu gol dari tiap empat tembakan juga membaptis dirinya jadi salah satu pembikin gol yang paling efektif di EPL, terimakasih untuk taktik brilian bikinan seorang Michael Laudrup.

Dalam strategi Laudrup, Michu memang memiliki porsi krusial karena diposisikan sebagai sebagai second striker, dengan role sebagai seorang inside forward. Pada skema terapan milik Swansea ini, yang sangat mengandalkan possesion football dan pergerakan pemain yang sangat fluid di segala lini, Michu punya lisensi untuk bergerak ke segala arah guna membuka ruang, memainkan link-up play dari lini tengah ke depan, juga mengeksekusi peluang lewat pergerakannya yang kerap datang dari blind side. Dan Michu sejauh ini sukses mengaplikasikan instruksi dari Laudrup dengan sangat baik.

Pergerakannya yang efektif di belakang lone striker Swansea —diisi secara bergantian oleh Danny Graham dan Itay Schechter— membuatnya kerap memperoleh ruang tembak dan momentum yang tepat untuk mencetak gol. Dengan torehan golnya yang sudah mencapai dua digit, berbanding sebiji gol milik Graham dan nihil milik Schechter, trkadang malah membuat dua orang striker utama The Swans itu lebih terlihat sebagai false nine ketimbang pemain yang berposisi sebagai target man.

"He gives us a lot. When we have the ball he is a second striker; when the opposition have the ball he is the third midfielder. It's a very important position for us," kata Laudrup mengamini.

Postur Michu yang tergolong bongsor, juga adalah blessing in disguise bagi Swansea yang membutuhkan keping puzzle pelengkap saat strategi passing dari kaki ke kaki yang mereka bangun membutuhkan seorang pemantul atau pengeksekusi bola-bola atas di area final third. Empat gol hasil sundulan kepala dan empat gol yang dibikin dari situasi coming from behind, menjadi bukti empiris bagaimana simbiosis mutualisme yang terjadi antara strategi yang diterapkan Swansea terhadap performa Michu di lapangan.

"He's not the quickest player but he's got great technique and a great touch in front of goal. He can score with his head, both feet, and you saw how he works hard (for the team)." komentar Michael Vorm, kiper Swansea, soal kinerja kompatriotnya asal Spanyol itu dalam sebuah wawancara.

Michu memang sebuah fenomena. Apalagi saat khalayak mulai mengetahui kalau price tag yang ditebus Swansea untuk membajaknya dari Rayo Vallecano "cuma" sebesar dua juta pounds. Anda jangan dulu bosan kalau soal nilai transfer ini, lagi-lagi Michu harus dikomparasi dengan seorang, yah siapa lagi, Fernando Torres. Nilai transfer 50 juta pounds milik Torres —senilai dengan harga 25 orang Michu— saat Chelsea membelinya dari Liverpool, memang sebuah kebijakan finansial yang bakal membuat Basuki "Ahok" Purnama  marah-marah dan memangkas anggaran transfer Chelsea sampai dengan 25%, andai Wakil Gubernur DKI Jakarta itu bekerja di sana.

"It's not about his price." kata Laudrup, "What would a player who scored 15 goals playing in the Premier League as an offensive midfielder cost? I think it would be maybe double, treble or even four times what we paid for Michu."

Ketika ditanya soal harganya yang terkesan underrated itu, Michu malah berkisah soal kondisi klubnya yang pada waktu itu tengah sekarat. Rayo Vallecano, klub Michu sebelumnya, memang tengah dilanda krisis keuangan hebat. Krisis keuangan yang melanda sebagian besar negara-negara di Eropa memang tak pilih-pilih dalam memangsa korban. Tak terkecuali dengan Spanyol, yang mayoritas klub-klub sepakbolanya terjerat permasalahan finansial. Dan Rayo, yang cuma sebuah klub gurem dengan prestasi minim, jelas ikut terbelit dalam pusaran krisis tersebut.

Saking akutnya masalah finansial yang mendera mantan klubnya itu, Michu ingat pernah suatu kali Rayo yang harus bertandang ke markas Real Sociedad, terpaksa menempuh perjalanan melalui jalan konvensional selama lima jam, karena tak mempunyai biaya untuk membayar tarif jalan tol. Karenanya, menurut Michu, nilai transfernya yang "cuma" sebesar dua juta pounds itu, sudah termasuk jumlah yang "wah" dan akan sangat berarti bagi keuangan klub kecil seperti Rayo.

"I went on a free to Rayo. Also there are a lot of crises in Spain. Rayo's economy is catastrophic. I can tell you that £2m is very good for them. It's like a wow for them."

Michu juga, adalah pribadi yang loyal terhadap klub yang dicintainya, terutama terhadap klub kota kelahirannya : Real Oviedo. Pernah suatu ketika di Tahun 2010 Sporting Gijon datang untuk merekrut Michu dengan menawarinya kontrak jangka panjang dan nilai kontrak yang berlipat-lipat jumlahnya dari yang didapatnya di Oviedo saat itu. Hanya karena Gijon adalah seteru abadi dari Oviedo lah, Michu kemudian menolak tawaran menggiurkan tersebut.

"I could have signed a five-year contract and had more money, but I'm from Oviedo and Sporting is our rival, so I can't play at Sporting," katanya. "I know it's unusual, but Oviedo is my team. Whether they are in the third, second or first division, that never changes."

Belakangan Michu, dan juga Santi Cazorla serta Juan Mata, juga diketahui melakukan aksi galang dana dan ikut membeli sebagian saham kepemilikan dari Real Oviedo guna mencegah klub tempatnya pertama kali bermain sepakbola itu mengalami kebangkrutan dan harus dibubarkan. Sebuah tindakan dan attitude yang kian membikin nilai transfernya yang cuma dua juta pounds benar-benar keterlaluan murahnya (are you watching, Roman? Sheikh Manshour?)

Musim memang baru berjalan kurang dari separuhnya, tapi rasa-rasanya kita sudah selayaknya sepakat untuk menganugerahi Michu dengan predikat transfer terbaik musim ini. Nilai transfernya yang teramat underrated, plus instant impact yang langsung diberikannya buat Swansea, pantas membuatnya berada pada garda terdepan dalam perebutan gelar signing of the season. Atau, mungkinkah ada peluang bagi Michu untuk menyabet gelar-gelar individual lainnya di musim ini, seperti top skorer atau best player misalnya?

Well, he just Michu. And you know this is crazy.

Minggu, 02 Desember 2012

Sebuah Akhir, Yang (Sebenarnya) Kita Sudah Tahu Akan Seperti Apa


Salah satu hal paling menyebalkan saat menonton sebuah pertandingan sepakbola adalah ketika tim jagoan anda sedang ketinggalan, butuh gol, tapi pemain lawan malah mengulur-ulur waktu dengan cara yang paling klasik: pura-pura kesakitan saban terjadi kontak fisik dengan lawannya. Kalau ada hal yang lebih menyebalkan dari itu, tentu saja adalah jika tim yang anda dukung kemudian kalah dan tersingkir dari sebuah kompetisi. 

Well, kemarin malam kita mendapatkan keduanya.

Timnas Indonesia yang sejatinya cuma butuh hasil seri untuk lolos dari fase grup Piala AFF akhirnya memenuhi takdirnya sebagai non-unggulan dengan mengepak koper lebih cepat setelah dikalahkan Malaysia 2-0. Dua gol yang dibikin Azimuddin Mohd Akil dan Mahalli Jazuli gagal dibalas oleh Indonesia sampai wasit meniupkan peluit panjang. Sebuah hasil yang membuat Indonesia harus puas duduk di posisi ketiga grup B dibawah Malaysia dan Singapura, yang disaat bersamaan berhasil mencukur Laos 4-2. Sebuah hasil yang membuat timnas menapaktilasi pencapaian di tahun 2007, yang juga cuma nyaris lolos dari fase grup.

Berulang kali kegagalan dan segala momen yang serba nyaris —nyaris juara, nyaris mengalahkan tim besar, nyaris lolos dari fase grup, dan juga nyaris-nyaris lainnya— tiap menyaksikan timnas bertanding membuat kita merasa seperti dikutuk oleh Tuhan karena tak kunjung bisa melihat timnas meraih prestasi. Saya lalu ingat pernah membaca tulisan dari mas @zenrs yang menyebutkan kalau nasib kita tak ubahnya Sisifus dalam mitologi Yunani.

Dalam kisahnya, Sisifus diriwayatkan sebagai manusia yang dikutuk oleh Zeus akibat ulah kurang ajarnya menyekap Thanatos, Dewa Kematian, yang menyebabkan manusia di muka bumi tidak bisa mati, serta melarikan diri dari masa hukumannya di penjara Tartarus setelah mengakali Hades dan Persephone dengan muslihat untuk kembali ke dunia manusia. Zeus yang sangat marah kepadanya kemudian mengutuknya dengan membuat Sisifus "sibuk" mendorong batu besar dari kaki hingga ke puncak Gunung Olympus. Ketika batu yang didorong Sisifus hampir sampai ke puncak, batu itu dijatuhkan lagi ke bawah, dan Sisifus harus mengulang lagi mendorong batu tersebut dari bawah. Dan ketika batu itu hendak sampai di puncak lagi, batu itu dijatuhkan lagi. Begitu seterusnya, selama-lamanya.

Timnas pun demikian. Kita punya siklus yang sangat mirip dengan kutukan Sisifus. Mulanya tak begitu yakin bisa sampai di puncak, kemudian optimisme muncul sedikit, dan seiring berjalannya perjalanan "mendorong batu", optimisme makin naik. Puja-puji mulai mengalir, berita tentang timnas merebak di mana-mana, pemain timnas mendadak jadi selebriti dan bintang iklan sosis siap makan, terus begitu, dan ketika hampir tiba di puncak kita jatuh lagi menggelinding ke bawah dengan keadaan babak belur, untuk kemudian dihujat lagi karena dianggap tak becus bermain bola. Terus begitu, entah sampai kapan.

Lihatlah bagaimana sepak terjang timnas di Piala AFF tahun ini. Diawali dengan macam-macam kisruh dualisme dan tarik menarik kekuasaan antara KPSI dengan PSSI, kemudian berlanjut dengan tak diperbolehkannya pemain-pemain yang merumput di ISL untuk memperkuat timnas oleh klubnya, ditambah dengan kasus Diego Michiels jelang bergulirnya Piala AFF, Indonesia memulai pejuangannya menggelindingkan batu ke Gunung Olympus dengan persiapan minimalis plus kekuatan yang boleh dibilang ala kadarnya. Wajar jika kemudian pesimisme yang mengepul terasa lebih hebat daripada biasanya.

Partai perdana menghadapi Laos seolah jadi pembenaran kalau kita memang tak akan jadi apa-apa di turnamen dua tahunan kali ini. Laos yang secara historis hampir selalu kita gunduli dengan skor besar, berhasil memaksakan skor imbang 2-2. Kalaupun ada sedikit asa dari pertandingan tersebut, itu adalah mental pantang menyerah dari para pemain yang tetap ngotot bermain mencari gol meski sempat dua kali tertinggal oleh gol-gol Laos.

Pertandingan berikutnya menghadapi Singapura, awan pesimisme masih berhamburan. Singapura di pertandingan sebelumnya berhasil menggasak tuan rumah Malaysia, yang juga berstatus sebagai juara incumbent, dengan skor besar 3-0. Sementara itu, kita cuma bisa imbang dengan Laos. Wajar kalau kita semakin tak diunggulkan, bahkan diprediksi bakal kalah dengan skor besar.

Tapi yang terjadi di lapangan kemudian adalah antitesis. Timnas bermain sangat rapih dan disiplin. Lapangan tengah menguasai bola dengan baik, plus menjalankan tugasnya sebagai tembok pelapis pertahanan. Taufiq dan Vendry Mofu yang dipasang sebagai double pivot, plus Irfan Bachdim yang kerap trackback ke daerah pertahanan, jadi kunci Indonesia dalam menahan gempuran Singapura malam itu. Sampai dengan turun minum, gawang timnas masih belum kebobolan. Asa kembali muncul. Satu poin sepertinya tak akan lari kemana-mana jika timnas terus bermain seperti itu di babak kedua.

Saat Irwan Shah mendapat kartu kuning kedua di menit 66', kita semua tahu ada keyakinan yang mulai muncul kalau-kalau Indonesia bisa mencuri satu gol untuk kemudian mengamankan raihan 3 poin. Dan Tuhan, yang malam itu sedang memiliki selera humor yang bagus, mengabulkannya. Set piece Andik Vermansyah, yang kita tak tahu dimaksudkan untuk mengirim umpan lambung atau melakukan tembakan parabola jarak jauh, melesak masuk ke sudut gawang Singapura. Gol, dan skor 1-0 itu tetap bertahan sampai akhir pertandingan.

Indonesia berhasil mencabut rekor tak pernah menang dari Singapura dalam tujuh pertandingan terakhir (enam kalah, sekali imbang) dengan skuat yang justru ala kadarnya. Kontan, harapan mulai membumbung. Andik dkk mulai ramai masuk pemberitaan media. Infotainment yang mungkin sudah bosan memberitakan kehidupan Nassar-Muzdalifah, kembali ikut-ikutan memberi lampu sorot terhadap kinerja timnas. Dan meski kini belum ada lagi iklan sosis siap makan yang memajang pemain-pemain timnas sebagai model iklannya, kita tahu optimisme mulai mengepul di dada masyarakat. Target lolos dari fase grup tinggal beberapa jengkal di depan mata setelah Indonesia hanya membutuhkan hasil imbang kala bersua tuan rumah Malaysia untuk melaju ke babak selanjutnya. Kalau rekor tak pernah menang dari Singapura saja bisa kita putus, siapa yang tak tergoda untuk berharap kalau timnas setidaknya mampu menahan imbang Malaysia?

Orang bilang harapan adalah akar dari segala kekecewaan, dan kita tahu itu. Akan tetapi, pada akhirnya kita selalu kembali tergoda untuk berharap ketika menyangkut prestasi timnas, meskipun kita juga sudah tahu ada kemungkinan yang teramat besar untuk dikecewakan. Dan benar saja, tadi malam, kita kembali dikecewakan oleh timnas. Timnas lagi-lagi menjatuhkan batu harapan yang sudah didorong dengan susah payah, bahkan kali ini sebelum mencapai setengah perjalanannya ke puncak.

Skenario kembali terulang. Skenario yang terus terjadi selama 22 tahun lamanya. Skenario yang sebenarnya kita sudah tahu akan berakhir seperti apa. Sebab, dengan persiapan yang optimal dan turun dengan talenta-talenta terbaik negeri ini saja, selama ini kita tak juga bisa meraih prestasi, apalagi dengan tahun ini yang dipenuhi konflik perselisihan kekuasaan antara PSSI dan KPSI, plus cuma bermodal persiapan ala kadarnya dan keterbatasan talenta pemain yang bisa dipanggil. Kita semua sebenarnya sudah tahu, cepat atau lambat, pada akhirnya kegagalan Indonesia di Piala AFF tahun ini memang bakal kejadian.

Pada akhirnya, kita kembali cuma bisa mengutuki nasib dan juga orang-orang yang berada dibalik kepengurusan PSSI (dan juga KPSI) akibat tingkah polah mereka yang tak kunjung becus mengurus sepakbola dalam negeri. Kita juga, lagi-lagi, cuma bisa membayangkan saat dimana timnas mampu bergelimang prestasi dan kita akhirnya lepas dari kutukan Sisifus yang sudah berjalan 22 tahun lamanya.

Kini, sembari menunggu saat itu terjadi, dimana menonton timnas bertanding dan berharap mereka meraih kemenangan bukan lagi sekedar sado-masokisme, mari persiapkan tangan dan kaki kita untuk sekali lagi menjalani rutinitas Sisifus-esque dengan mencoba kembali mendorong batu besar yang berat ini. Tapi kali ini bukan untuk digelindingkan ke puncak Gunung Olympus, melainkan digelindingkan ke kantor para pengurus PSSI dan KPSI. Supaya mereka-mereka yang rakus akan kekuasaan itu remuk tergilas batu besar. Supaya tidak ada lagi kepengurusan asal-asalan dan penuh intrik di sepakbola kita. Supaya sepakbola Indonesia bisa memulai awal langkah pembaharuan menuju yang ke arah yang lebih baik.

Bung, ayo Bung!

Kamis, 15 November 2012

Menanti Reuni Bambang - Ellie



Dalam segala hal, manusia memang telah dikodratkan untuk hidup berpasang-pasangan. Dan kadang-kadang, karena keberadaan pasangan lah, seseorang akhirnya mampu mengeluarkan potensi terbaik yang ada di dalam dirinya.

Sid Vicious mungkin tak akan sesableng seperti yang kita kenal sekarang andai ia tak pernah mengenal Nancy Spungen. Alan Budikusuma dan Susi Susanti juga saling tahu, bahwa mereka tak jadi raja dan ratu dunia tepok bulu melulu karena bakat yang mereka miliki, tetapi juga berkat dukungan yang berjalan timbal balik antar keduanya.

Sepakbola pun demikian. Meski dalam koridor yang agak berbeda, kancah lapangan hijau selalu memiliki kisah unik tentang pasangan-pasangan yang menjadi protagonis dalam melodrama bernama sepakbola.

Bagi yang besar di era 90-an tentu tak asing lagi dengan hikayat mengenai duet maut Alessandro Del Piero dan Pippo Inzaghi di garda depan penyerangan Juventus yang kesohor dengan julukan Del-Pippo. Begitu pun dengan fans Manchester United yang tak akan pernah lupa dengan kebesaran tandem Andy Cole - Dwight Yorke ketika mengantar tim mereka menyabet treble di musim 1998/1999. Dan jika kita menilik ke negeri sendiri, sepertinya tidak ada sosok lain yang layak disebut sebagai "pasangan emas" selain tandem sehati antara Bambang Pamungkas dengan Ellie Aiboy.

Bepe mungkin tak akan pernah dikenal sebagai pemain lokal dengan kemampuan finishing kepala paling mematikan andai ia tak menerima crossing-crosing memanjakan dari seorang Ellie. Pun begitu dengan Ellie yang mungkin saja hanya akan menjadi pemain dengan crossing anti gravitasi seperti Bebe (yeah, that Bebe) jika ia tak bertemu pemain seperti Bambang yang selalu siap sedia menadah umpan menyilangnya dengan lompatan vertikal plus heading akurat. Singkat kata, keduanya adalah senyawa yang saling mengisi dan melengkapi satu sama lain.

Meski cuma menjalani kebersamaan selama lima musim (2002 - 2006), keharmonisan dan saling pengertian antar keduanya jauh lebih baik daripada hubungan Raffi Ahmad dan Yuni Shara yang putus nyambung tak jelas rimbanya itu. Dalam lima musim tersebut, tak terhitung berapa banyak kombinasi yang dibentuk keduanya demi mengoyak jala lawan.

Persija Jakarta, Timnas Indonesia, dan Selangor FC adalah tim-tim yang pernah merasakan tuah emas dari pasangan ini. Gol demi gol, assist demi assist rajin ditorehkan oleh Bepe - Ellie bagi tim-tim tersebut. Tapi meskipun demikian, di Selangor FC lah keduanya menemukan masa kejayaan.

Bermula dari kepindahan Bepe ke Selangor pada tahun 2005, Ellie yang waktu itu niatnya hanya mengantar kepergian sahabat karibnya, malah ditawari trial oleh manajemen Selangor. Dasar jodoh, Ellie pun dianggap mumpuni dan akhirnya dikontrak oleh Selangor memanfaatkan satu slot jatah pemain asing yang masih dimiliki Tim Gergasi Merah.

Selanjutnya adalah sejarah.

Kombinasi keduanya di musim perdana menghadirkan kegemparan bagi publik Malaysia. Selangor FC langsung diantar meraih treble winners, menyapu bersih semua gelar yang tersedia dalam kompetisi sepakbola Malaysia. Bepe sendiri meledak dengan total 39 gol dari 42 pertandingan di semua kompetisi pada musim itu. Mayoritas dari golnya tersebut, berasal dari signature move antara dirinya dengan Ellie yang sangat khas itu. Makanya, gelar top scorer dan player of the year yang disabet Bambang pada musim itu, harus diakui adalah berkat andil partnership-nya dengan Ellie juga.

Satu gol yang paling monumental dan paling diingat tentu saja adalah kombinasi keduanya saat membantu Selangor menghantam Perak FC dalam laga final Piala FA Malaysia tahun 2005.

Memasuki menit ke 41, Bambang, yang baru beberapa detik kembali ke lapangan setelah mengganti celananya yang robek, menerima sodoran bola dari lini tengah dengan keadaan seragam yang masih serampangan. Mengetahui Ellie tengah berlari membuka ruang di flank kanan, umpan terobosan manis dilepaskan Bepe kepadanya. Ellie yang seolah tahu jalan pikiran dari kompatriotnya itu, kemudian membawa bola hingga mendekati byline sebelum melepas crossing melengkung ke tiang jauh. Bepe, yang masih dengan keadaan seragam seperti orang habis hangover, menyelinap masuk ke kotak penalti untuk menghantam bola dengan sebuah diving header menawan. Gol, dan Stadion Shah Alam pun meledak dalam keriuhan dan suka cita. Nama keduanya pun didengung-dengungkan sebagai pahlawan di seantero stadion.

Bambang dan Ellie, tak bisa dipungkiri, meski cuma dua musim merumput di Selangor, telah menjelma menjadi santo bagi fans Selangor FC. Saya yakin di kemudian hari, kisah dan gol-gol mereka berdua akan selalu menjadi dongeng yang paling menyenangkan untuk diceritakan oleh pendukung-pendukung Selangor FC kepada anak cucunya kelak.

Pada tahun 2007, setelah menjalani dua musim yang penuh gegap gempita bersama The Red Giants, Bambang dan Ellie memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia. Dan sejak saat itu, keduanya tak pernah bersatu lagi dalam tim yang sama. Sejak saat itu juga, tidak pernah ada lagi pasangan emas Bambang - Ellie mengoyak jala lawan dengan signature move khas mereka.

Bambang memutuskan kembali ke tim home grown-nya, Persija Jakarta, sementara Ellie sempat melanglang buana ke Arema, PSMS, hingga Persidafon Dafonsoro, sebelum akhirnya kembali ke klub yang membesarkan namanya, Semen Padang. Dengan Ellie yang mulai kalah bersaing dengan talenta-talenta muda dalam memperebutkan posisi di timnas, praktis CLBK antara keduanya juga gagal terjadi pada level timnas.

Namun kini, setelah bertahun-tahun berpisah, duet Bambang - Ellie dipastikan akan melakukan reuni. Sebuah reuni yang boleh jadi tak akan pernah terlaksana, terimakasih atas dualisme dan konflik-konflik yang tak pernah berhenti mengerami sepakbola kita, andai pemain-pemain yang merumput di ISL dierbolehkan memperkuat timnas oleh KPSI.

Soal skill dan kemampuan fisik, keduanya mungkin sudah tak sebaik pada masa jayanya dulu. Akan tetapi soal pengalaman dan kepemimpinan, keduanya adalah filsuf lapangan hijau yang paling layak mengemban tanggung jawab untuk membimbing pemain-pemain muda minim jam terbang yang mengisi mayoritas jajaran skuad timnas kali ini.

Berharap duet Bambang - Ellie mampu mengatrol permainan timnas untuk sampai ke tangga juara sepertinya adalah hal yang kelampau muluk jika melihat kondisi timnas yang agak memprihatinkan seperti sekarang ini, meskipun, tidak ada salahnya juga sekedar menaruh harapan yang baik bagi timnas.

Akan tetapi kalau berharap untuk sekedar menyaksikan komentator pertandingan berteriak : " ...Ellie Aiboy berlari sendirian di sisi kiri pertahanan lawan.... crossing saja langsung ke dalam kotak penalti, daaaannnn...... GOOOOLLLL!! Bambang Pamungkas berhasil memanfaatkan crossing dari Ellie Aiboy. Indonesia memimpin untuk sementara..." sepertinya bukan sebuah hal mustahil untuk kesampaian.

Dan saat hal itu benar-benar terjadi, giliran Stadion Bukit Jalil yang akan pecah oleh keriuhan. Keriuhan bernama "nostalgia yang manis".

Minggu, 11 November 2012

Terpelajar Sejak Dalam Pikiran


Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia, pernah menyerukan dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia, bahwa manusia yang terpelajar sudah selayaknya berlaku adil sejak dalam pikiran dan juga dalam perbuatan, kepada siapapun, tanpa terkecuali. Mengikuti perbuatan umum yang sudah lama salah kaprah, ataupun menjustifikasi manusia lain secara bias berdasarkan faktor-faktor yang tak materiil dengan pokok permasalahan adalah perbuatan yang tak mencerminkan hal tersebut. Sebab yang baik harus tetap dinilai baik, dan yang salah harus tetap dikatakan salah.

Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Tapi kenyataannya kebanyakan manusia memang suka begitu, tak peduli dia terpelajar atau tidak. Ambil contoh saja bagaimana PSSI menyikapi kasus penganiayaan yang menjerat salah satu punggawa timnas, Diego Michiels. Sesaat setelah jongeren yang dinaturalisasi dari Belanda untuk membela tim nasional itu dinyatakan sebagai tersangka, PSSI malah membikin langkah komedi dengan cuma memberikan denda sebesar Rp 500.000,00 tanpa hukuman skorsing apapun kepadanya. Entah atas tendensi apa PSSI melakukan hal tersebut, tapi yang jelas, sanksi yang diberikan kepada Diego itu jelas tidak mencermikan perilaku adil sejak dalam pikiran seperti yang dimaksud Pram.

Sebagai perbandingan saja, Titus Bonai, yang beberapa waktu lalu juga berlaku indisipliner, langsung dikenai sanksi berupa pencoretan dari timnas tanpa ba-bi-bu. Padahal, kalau ditilik dari segi etika dan moral, pelanggaran yang dilakukan Tibo tak seberat Diego yang kabur dari larangan jam malam cuma untuk dugem dan beradu jotos dengan sesama pengunjung klub malam. 

Dilihat dari sudut manapun, dengan alasan apa pun, apa yang dilakukan Diego adalah perbuatan yang sama sekali tak ada bagus-bagusnya buat timnas. Apalagi dengan suasana timnas yang sedang tak kondusif dengan segala macam silang sengkarut yang menderanya. Apa yang dilakukan Diego hanya semakin memperkeruh keadaan timnas yang sudah tak keruan dan semakin menipiskan simpati dari masyarakat untuk timnas. Sudah sewajarnya kalau Diego kemudian diberikan hukuman yang setimpal, dengan dicoret dari timnas, misalnya.

Mungkin PSSI khawatir apabila Diego dicoret dari skuad, keharmonisan tim yang sudah mulai terjalin akan terganggu, padahal hanya dalam dua minggu lagi Piala AFF akan bergulir. Kalau memang demikian alasannya, PSSI tampaknya tak sadar kalau mereka sedang menanam bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Membiarkan Diego tetap berkeliaran dalam pemusatan latihan timnas, sama saja dengan mendoktrin pemain-pemain lain bahwa melanggar larangan keluar malam adalah hal yang sepele. Sebab kalaupun ketahuan, dendanya tak sampai jutaan, tak terlalu besar lah buat ukuran pemain kelas timnas.

Bisa jadi PSSI beralibi dengan keterbatasan pemain berkualitas yang bisa dipanggil untuk memperkuat timnas akibat adanya dualisme kompetisi. Dengan dicoretnya Diego, PSSI mungkin khawatir kalau kekuatan timnas akan jadi timpang dan kurang taji. Seharusnya PSSI ingat, kalau timnas adalah lebih besar ketimbang seorang individu. Mencoret satu pemain indisipliner dan mempertahankan pemain lain ,yang walaupun berkualitas semenjana namun mau berkomitmen penuh untuk  tim, jauh lebih baik ketimbang memiliki sepuluh pemain berkualitas top di dalam tim namun suka berbuat onar dan melanggar peraturan.

Tak perlu jauh-jauh mencari contoh ke timnas mancanegara yang tak pandang bulu dalam memberi sanksi terhadap pemainnya yang gemar melanggar peraturan, dari kancah sepakbola lokal pun kita punya kiblat untuk dijadikan contoh. Ivan Kolev misalnya, pernah menepikan Zaenal Arif menjelang partai hidup mati timnas di penyisihan grup Piala Asia tahun 2007 melawan Korea Selatan karena Arif kedapatan kabur melanggar larangan jam malam, untuk menemui keluarganya. Tahun 2004 Kolev juga pernah mencoret Isnan Ali, Kurniawan dan Mukti Ali Raja, melulu karena alasan indisipliner.

Yang paling fenomenal tentu saja adalah Anatoli Polosin yang dengan tangan dingin memarkir pemain-pemain bintang timnas seperti Ricky Yakobi, Fachry Husaini dan Ansyari Lubis akibat ulah indisiplinernya menjelang SEA GAMES tahun 1991. Hasilnya luar biasa, timnas yang berbekal punggawa-punggawa muda justru tampil trengginas dan keluar sebagai juara. Jadi, saya pikir, tidak ada alasan lain bagi PSSI untuk tidak mencoret Diego, yang kini tengah terancam hukuman bui selama lima tahun, dari skuad timnas yang tengah menjalani pemusatan latihan. 

Siapa tahu dengan keluarnya Diego, pemain-pemain lain yang merupakan deputi dari Diego di posisi bek kiri, bisa menunjukkan sinarnya yang selama ini tersembunyi oleh bayang-bayang Diego. Kita pun jadi punya alternatif baru untuk posisi bek kiri. Ya, siapa tahu.

Jadi, dengan segala hal yang saya tulis diatas, jikalau pada akhirnya hingga Piala AFF bergulir pada 24 November mendatang, kita masih bisa menjumpai nama Diego Michiels dalam daftar 23 pemain yang dibawa coach Nil Maizar untuk mengarungi perjuangan merebut piala AFF di Malaysia sana, bolehkah kalau kita menyebut pengurus-pengurus PSSI yang terhormat itu sebagai sosok yang tak terpelajar? Barangkali iya, barangkali memang begitu.